Symphony of Us

Symphony of Us

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 25, 2025
=============================================================== Cinta sering kali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dalam dunia musik yang penuh dengan melodi dan ritme. Ketika Alucard menciptakan lagu untuk Granger, itu bukan hanya tentang nada dan harmoni. Itu adalah ekspresi dari perasaan yang sudah lama terpendam. Namun, apa yang terjadi ketika lagu itu menjadi perpisahan? Di antara tuts piano dan senar biola, dua jiwa muda bertemu. Saling mendukung dalam perjalanan penuh lika-liku, mereka menemukan bahwa cinta bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang bagaimana hati bisa berbicara lewat musik. ================================================================ Semoga ga selingkuh naskah lagi
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Ada yang Retak, Tapi Tak Pecah [ End ✅ ]
  • Song for Love
  • cinta di BATAS SENJA
  • Elegi di Batas Jarak
  • Legato and Staccato

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines