Juragan Empang

Juragan Empang

  • WpView
    Reads 166
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 27, 2025
Brianna Aurelia cuma mau satu hal: bertahan hidup. Setelah Kakeknya meninggal, dia terjebak dengan tumpukan cicilan dan pekerjaan yang gajinya cuma cukup buat beli nasi bungkus tanpa lauk tambahan. Hidupnya sudah cukup mumet, sampai suatu hari datang kejutan lain-seorang pria tinggi dengan setelan mahal berdiri di depan pintunya dan mengucapkan kalimat paling absurd yang pernah Brianna dengar: "Saya Sambara Mahendra, sahabat Kakek kamu. Dan saya mau melamar kamu jadi istri saya." Sambara punya rahasia yang lebih dari sekadar janji kepada Kakek Brianna. Sementara Brianna yang dari awal ogah, mulai bingung sendiri kenapa rumah terasa lebih sepi kalau pria itu gak nongol. Di antara momen-momen kecil yang tak terduga, keduanya perlahan dipaksa menghadapi kenyataan: mungkin, cinta memang datang di waktu dan cara yang paling nggak masuk akal. Sebuah kisah slow burn penuh komedi, slice of life, dan pintu yang terlalu sering dibanting.
All Rights Reserved
#10
angrybao
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • FADING IN YOUR ARM [YEOJONG]
  • Drafting Destiny
  • As Possible
  • Hening Yang Menyebut Namamu
  • LOVE, UNEXPECTEDLY (END)
  • Possessive Bro • Jae
  • Here With Me

DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines