Left behind in Time

Left behind in Time

  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 29, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
"Katanya cinta pertama yang paling sulit dilupakan. Tapi ternyata, cinta kedua yang paling sulit dimaafkan." - Nara Aurelientha Aku pacaran sejak kelas dua SMP. Putus saat lulus, tapi bukan benar-benar selesai. Dari umur 15 sampai 20, dia tetap ada. Nggak intens, tapi cukup sering untuk membuatku nggak bisa move on. Cukup hangat untuk membuatku percaya-mungkin suatu hari, dia akan kembali. Lalu aku pacaran sama orang lain. Empat tahun. Dia baik, sabar, dan nggak salah apa-apa. Justru aku yang merasa bersalah. Semua yang aku butuhkan ada di dia, tapi aku tetap terjebak dalam kenangan yang nggak pernah selesai. Bahkan dia nggak tahu, bahwa setiap kali dia kasih perhatian, aku selalu merasa nggak pantas menerimanya. Sampai umur 24. Saat aku bersiap menikah. Saat aku sadar-beberapa orang memang tidak ditakdirkan untuk menetap. Mereka hanya datang untuk mengacaukan standar kita tentang cinta. Dan ketika akhirnya semua benar-benar sunyi, aku paham: Move on bukan berarti lupa, tapi berhenti berharap dia merasa bersalah. Tapi ya... setelah bertahun-tahun menjadikan seseorang pusat semesta, pertanyaan paling menakutkan tetap sama: Bisakah aku benar-benar hidup tanpa dia di orbit?
All Rights Reserved
#51
lovetohate
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Past Love Part 1
  • Rama Prananta (Sudah Terbit)
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Love In Paris (COMPLETED)
  • DikaRanggi
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Reverie
  • Sekali Lagi (End)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines