Fitri Nurrohmah, seorang ustadzah muda berhati lembut, hidup sederhana menjalani hari-harinya di SMP Muhammadiyah Rakit.
Tak pernah ia bermimpi langkah kakinya akan mengantarkannya ke Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), ketika amanah datang: menggantikan kepala sekolah untuk kuliah D1 Kemuhammadiyahan.
Di kelas itu-yang penuh dengan para kepala sekolah berwibawa-Fitri lebih banyak menunduk, menjaga adab, menjaga diri.
Sementara di sisi lain, Ragil, seorang dai muda humoris asal MTs Muhammadiyah Petambakan, diam-diam memperhatikannya.
Ragil bukan tipe pemuda yang pandai menyimpan ekspresi; gayanya sering kocak, dramatis, penuh celoteh. Tapi ketika berhadapan dengan Fitri, semua keberaniannya lenyap.
Mereka sekelas, sering berpapasan, tapi hanya bertukar senyum malu-malu.
Tak satu kata pun terucap, seolah-olah dunia mengatur jarak di antara mereka.
Namun diam-diam, Allah sedang menulis takdir-Nya dengan tinta yang tak terlihat.
Perlahan, perhatian kecil itu berubah menjadi kekaguman.
Kekaguman berubah menjadi keyakinan.
Hingga teman-teman kepala sekolah yang jahil mulai "mengompori", membuat suasana menjadi lebih lucu, canggung, dan diam-diam... manis.
Saat Ragil akhirnya memberanikan diri "meminjam pulpen", Fitri masih belum mengerti.
Namun Allah sudah menyiapkan jalan.
Sebuah perjalanan yang sederhana, penuh canda, keikhlasan, dan adab Islami, hingga akhirnya Ragil berani datang meminang Fitri - dengan satu syarat: bertemu orang tuanya dan melewati ujian... berdongeng di masjid!
"Dongeng" itu bukan sekadar cerita; itu menjadi bukti kesungguhan.
Dan saat Fitri melihat kesungguhan itu, serta kepercayaan kedua orang tuanya mengalir...
Tak ada lagi alasan untuk menunda.
Hanya dalam hitungan jam setelah lamaran, akad nikah pun dilangsungkan.
Bukan karena tergesa, tapi karena yakin:
Bahwa ketika kita menyerahkan hati kita kepada Allah,
Dia akan mempertemukannya dengan hati yang tepat, di waktu yang sempurna, dengan cara yang tak pernah kita sangka.
Wszelkie Prawa Zastrzeżone