Story cover for Dapur Wulan  by Heniwulandari2625
Dapur Wulan
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Apr 29, 2025
Di jantung rumah yang tak pernah kehabisan nyala, Dapur Wulan berdiri laksana benteng kecil yang menjaga bara kehidupan. Setiap pagi, mentari menumpahkan sinarnya lewat jendela, menari di atas meja kayu, membelai peralatan yang siap menghidupkan hari.

Tangan Wulan bergerak cekatan, mengiris waktu, mencampur harapan ke dalam adonan sederhana. Suara wajan yang berdesis, aroma rempah yang meletup dari panci, menjadi lagu perlawanan, nyanyian tentang keberanian yang tak pernah letih. Setiap adukan bukan sekadar meracik rasa, tetapi meneguhkan janji bahwa hidup seberat apa pun selalu pantas diperjuangkan.

Di dapur ini, tak ada ruang untuk tangis yang sia-sia. Hanya tawa kecil yang mekar bersama uap sup yang hangat, hanya tekad yang dipahat bersama bumbu-bumbu yang meresap dalam. Setiap sudut menyimpan kisah tentang ketangguhan,tentang tangan yang tetap mengaduk adonan, bahkan saat dunia di luar bergejolak.

Dapur Wulan bukan sekadar ruang memasak, ia adalah medan tempat jiwa ditempa, tempat cinta pada hidup disajikan dalam piring-piring sederhana, penuh rasa, penuh keberanian.
All Rights Reserved
Sign up to add Dapur Wulan to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Cinta Dalam Mekarnya Bunga by araminta_123
23 parts Ongoing Mature
Lila percaya bahwa cinta mirip bunga. Ia tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Ia butuh waktu, kehangatan, dan keberanian untuk mekar di tengah dunia yang kadang terlalu dingin. Hidup Lila selama ini sederhana, tenang, seperti angin pagi di antara deretan bunga matahari yang menghadap ke timur. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan warna-warni kelopak dan wangi tanah basah. Ia merawat bunga seperti merawat dirinya sendiri-penuh kelembutan, tapi juga penuh kehati-hatian. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika ia bertemu Arka. Arka datang seperti angin musim gugur: dingin, tak terduga, dan membawa sesuatu yang membuat dedaunan gugur satu per satu. Ia bukan pria yang datang dengan tawa lebar atau kata-kata manis. Ia hadir dengan sorot mata yang tajam, langkah yang berat, dan diam yang penuh rahasia. Lila bisa merasakannya-ada beban yang dibawa pria itu, sesuatu dari masa lalunya yang belum selesai. Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Arka sedang mencari bunga untuk seseorang yang telah tiada. Lila, seperti biasa, tengah menyusun rangkaian bunga mawar putih di toko kecil peninggalan ibunya. Tak ada yang istimewa, kecuali cara Arka menatap bunga seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Dan sejak saat itu, dunia Lila mulai berubah. Perlahan, kehadiran Arka menjadi bagian dari hari-harinya. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka saling memahami. Lila menemukan kehangatan di balik dinginnya sikap Arka, dan Arka menemukan ketenangan dalam mata Lila yang jujur. Tapi cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah cinta yang mudah. Ia datang membawa ujian, luka lama, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Karena Arka tidak datang dengan hati yang utuh. Dan Lila bukan gadis yang bisa mencinta setengah-setengah. Mereka seperti dua bunga yang mekar di musim berbeda-saling mendekat, tapi takut layu sebelum waktunya.
Sepotong Roti, Seribu Cerita by AzarineLune
17 parts Complete
Hujan rintik-rintik jatuh membasahi jalanan berbatu di sudut kota kecil itu. Udara membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi manis kayu manis dan vanilla. Di antara deretan bangunan tua, berdiri sebuah toko roti mungil dengan jendela kaca besar yang memancarkan cahaya hangat ke trotoar. Di atas pintu kayu berwarna cokelat tua, papan nama "Autumn Loaf" bergoyang pelan tertiup angin. Toko roti itu tak pernah benar-benar sepi, meskipun hanya ada satu atau dua pelanggan yang duduk menikmati roti hangat dan secangkir teh. Di dalamnya, rak-rak kayu penuh dengan berbagai macam roti, dari croissant lembut hingga baguette yang renyah. Di balik meja kasir, seorang pria dengan rambut berwarna merah tengah menguleni adonan dengan gerakan yang tenang dan penuh perhatian. Caine Chana, pemilik toko ini, telah menghabiskan separuh hidupnya menciptakan rasa yang bisa membangkitkan kenangan. Baginya, toko roti ini bukan sekadar tempat berjualan. Setiap adonan yang ia buat memiliki kisahnya sendiri. Setiap pelanggan yang datang membawa cerita yang ingin mereka kenang atau lupakan. Beberapa datang mencari rasa masa kecil, beberapa ingin menghadiahkan roti untuk orang terkasih, dan ada juga yang hanya ingin merasakan kehangatan di hari yang dingin. Dari balik jendela, Caine melihat seorang pelanggan masuk. Ia tersenyum kecil, menyambut dengan suara lembut. "Selamat datang di Autumn Loaf. Apa yang bisa kubantu hari ini?" Dan seperti itulah setiap kisah dimulai-dengan sepotong roti, secangkir teh, dan sebuah kenangan yang kembali teringat.
You may also like
Slide 1 of 8
Cinta Dalam Mekarnya Bunga cover
The Space Between Us cover
Angkasa dan Cerita cover
Badai, Kapan Berlalu? cover
Sepotong Roti, Seribu Cerita cover
Strong Boy (End) cover
Ecosillia cover
Bukan Rumah cover

Cinta Dalam Mekarnya Bunga

23 parts Ongoing Mature

Lila percaya bahwa cinta mirip bunga. Ia tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Ia butuh waktu, kehangatan, dan keberanian untuk mekar di tengah dunia yang kadang terlalu dingin. Hidup Lila selama ini sederhana, tenang, seperti angin pagi di antara deretan bunga matahari yang menghadap ke timur. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan warna-warni kelopak dan wangi tanah basah. Ia merawat bunga seperti merawat dirinya sendiri-penuh kelembutan, tapi juga penuh kehati-hatian. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika ia bertemu Arka. Arka datang seperti angin musim gugur: dingin, tak terduga, dan membawa sesuatu yang membuat dedaunan gugur satu per satu. Ia bukan pria yang datang dengan tawa lebar atau kata-kata manis. Ia hadir dengan sorot mata yang tajam, langkah yang berat, dan diam yang penuh rahasia. Lila bisa merasakannya-ada beban yang dibawa pria itu, sesuatu dari masa lalunya yang belum selesai. Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Arka sedang mencari bunga untuk seseorang yang telah tiada. Lila, seperti biasa, tengah menyusun rangkaian bunga mawar putih di toko kecil peninggalan ibunya. Tak ada yang istimewa, kecuali cara Arka menatap bunga seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Dan sejak saat itu, dunia Lila mulai berubah. Perlahan, kehadiran Arka menjadi bagian dari hari-harinya. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka saling memahami. Lila menemukan kehangatan di balik dinginnya sikap Arka, dan Arka menemukan ketenangan dalam mata Lila yang jujur. Tapi cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah cinta yang mudah. Ia datang membawa ujian, luka lama, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Karena Arka tidak datang dengan hati yang utuh. Dan Lila bukan gadis yang bisa mencinta setengah-setengah. Mereka seperti dua bunga yang mekar di musim berbeda-saling mendekat, tapi takut layu sebelum waktunya.