Bayangan di Bawah Langit Timur

Bayangan di Bawah Langit Timur

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 6, 2025
Langit di atas perbatasan Timur memudar dalam gradasi abu-abu. Senja tak pernah benar-benar hadir di tempat ini. Debu berterbangan bersama aroma logam, asap mesiu, dan keheningan yang lebih menakutkan daripada letusan peluru. Di sinilah Kapten Arga Prasetya berdiri, diam di menara pengawas yang berderit pelan terkena hembusan angin. Tangannya menggenggam laras senapan seperti menggenggam harapan yang kian lama kian melemah. Usianya tiga puluh empat tahun, tapi sorot matanya seperti milik lelaki yang telah hidup seratus tahun dalam medan perang. Wajahnya keras, berhiaskan luka samar yang membelah pipi kanan-oleh pecahan mortir dua tahun silam di Lembah Rasmina. Di pundaknya tergantung lencana pasukan elit TNI, tapi di dadanya, yang tergantung justru jauh lebih berat: rasa bersalah. Di bawah menara, para prajurit bergantian patroli, bayangan mereka panjang membentang di tanah berkerikil. Suara jangkrik bersahut-sahutan, menyanyikan lagu perang yang tak pernah benar-benar berakhir. Di dalam pos utama, radio militer memancarkan suara khas: derak-klik-suara statik. Kemudian terdengar suara perwira dari markas utama. "Pos Alfa-7, laporan perimeter jam 1800." Arga menurunkan senapannya dan menjawab dengan nada berat. "Alfa-7 melapor. Perimeter aman. Tidak ada aktivitas musuh." Namun hatinya berkata lain. Sudah beberapa hari terakhir, Arga merasa ada sesuatu yang janggal. Musuh tak pernah benar-benar diam di wilayah ini. Jika terlalu tenang, itu biasanya pertanda bahwa badai akan segera datang.
All Rights Reserved
#877
senja
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pendekar Dari Pajajaran
  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Senja Termendung
  • Cahaya Gemintang (CH!Indonesia)
  • Dirgantara
  • DESCENDANTS OF SEVENTEEN (a story can't never tell)
  • Xagala
  • TAK BISA MELAWAN TAKDIR

Setiap kerajaan besar menyimpan dua hal yang tak terelakkan: kejayaan... dan keretakan. Di Tarumanagara, pecahan-pecahan itu mulai terasa seperti getar halus di permukaan air-nyaris tak terdengar, tapi menyimpan badai yang sabar. Patih Wilagni tahu: ia sedang berdiri di antara sisa-sisa peradaban yang megah, tapi rapuh. Di usia senjanya, ia hanya ingin diam di beranda, mendengar suara angin dan cucu yang tertawa. Tapi sejarah jarang mengizinkan seseorang pergi tanpa luka. Tuduhan, pengkhianatan, dan dendam masa lalu mendesaknya untuk memilih: diam... atau melindungi yang ia cintai. Aryaseta, putra semata wayangnya, belum sepenuhnya tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah warisan dari masa yang runtuh. Ia masih membaca sastra tua di kamarnya, tidak tahu bahwa namanya sedang ditimbang di ruang-ruang kekuasaan yang tak ia kenal. Dan Santanu, bekas prajurit yang memilih menjauh dari hiruk-pikuk istana, kini harus kembali menakar kesetiaan di atas luka. Di antara rempah-rempah dagangannya, ia menyimpan satu sumpah: agar tak satu pun anak cucunya jatuh ke dalam lingkaran dendam keraton. Lalu, Tarumanagara pun pecah. Dari rahimnya lahir dua anak kandung yang tak lagi saling mengenal: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Satu ingin melanjutkan nama, satunya ingin memulai yang baru. Tapi sejarah tidak pernah bisa ditulis tanpa darah. "Petaka di Tarumanagara" bukan sekadar kisah tentang raja dan perang. Ini adalah narasi tentang perpisahan, tentang keberanian menyelamatkan jiwa meski kehilangan segalanya, dan tentang cinta yang bertahan meski dunia berubah bentuk. Bila kekuasaan adalah lingkaran, maka cerita ini adalah tentang orang-orang yang memilih keluar dari pusaran itu-demi cinta, demi warisan yang lebih luhur daripada tahta.

More details
WpActionLinkContent Guidelines