Setengah Hati Yang Tak Pergi

Setengah Hati Yang Tak Pergi

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 3, 2025
Siren tak pernah berniat jatuh cinta lagi. Kota baru, hidup baru, dan kesunyian yang ia peluk erat adalah bentuk perlindungan dari masa lalu yang terus membayang. Ia terbiasa berjalan sendiri, menutup diri dari perhatian orang lain, sampai suatu sore hujan mempertemukannya dengan Sena wanita yang datang dengan tawa ringan dan mata yang memahami tanpa harus bertanya. Sena tak seperti siapa pun yang pernah Siren temui. Ia hadir tanpa menghakimi, mendengar tanpa mengorek, dan mencintai tanpa menuntut. Dalam kebersamaan yang perlahan tumbuh dari percakapan-percakapan kecil dan keheningan yang nyaman, Siren mulai merasakan sesuatu yang telah lama ia lupakan rasa aman. Namun, ketika kebaikan berubah menjadi ketertarikan, dan ketertarikan tumbuh menjadi cinta, Siren dihadapkan pada pertanyaan yang sulit: apakah ia cukup layak untuk dicintai kembali? Sementara Sena harus memilih: bertahan mencintai seseorang yang belum siap membuka hati, atau melepaskan demi tak melukai diri sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Echoes Of Goodbye (END)
  • The Memory Between Us I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • AMERTA : The Last Embrace
  • And Then You Came (Completed)
  • Cinta Terlarang

Sembuh bukan tentang menemukan cinta baru, bukan pula tentang melupakan jejak yang pernah tertinggal. Sembuh adalah seni merangkul luka tanpa membiarkannya menguasai, membiarkan kenangan tetap ada tanpa menjadikannya belenggu. Bukan proses yang bisa kupaksa atau percepat, melainkan perjalanan sunyi yang penuh riak-riak ingatan-tentang tawa yang dulu menghangatkan, tentang janji-janji yang kini hanya gema di lorong waktu. Aku tahu, kamu pernah menjadi rumah, tempatku pulang tanpa ragu. Namun, rumah itu kini hanya bayangan, berdinding sunyi dan berisi ruang-ruang kosong yang tak lagi menyambutku. Aku tidak ingin menghapus setiap memori, karena bagiku, kenangan adalah musim yang datang dan pergi-tak perlu diusir, hanya perlu diterima. Maka aku memilih berjalan, bukan untuk meninggalkan, tapi untuk melangkah dengan luka yang sudah kujinakkan, dengan hati yang tidak lagi mencari, tapi mengerti bahwa tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali. -Sharfina

More details
WpActionLinkContent Guidelines