Hujan Terakhir di Batavia (end)

Hujan Terakhir di Batavia (end)

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Apr 30, 2025
Di tengah senja kolonial yang sekarat, dua insan-Abel, seorang pribumi penjual sarung tangan bordir yang gelisah, dan Hendrik, pegawai administrasi Belanda yang terhimpit beban identitas. Di Batavia yang lembap dan murung, keduanya saling menemukan pengertian dalam dunia yang menolak keberadaan mereka apa adanya. Namun sejarah tak pernah diam. Jepang mendekat, revolusi memuncak, dan pilihan hidup menjadi pertaruhan nyawa. surat-surat menjadi satu-satunya penghubung antara dua hati yang tercerai oleh sejarah dan kehormatan. Bertahun-tahun kemudian, di sebuah rumah tua yang berderit di sudut Jakarta, Hendrik yang renta menerima surat terakhir dari masa lalu-goresan tangan Abel, membawa pesan yang tak pernah selesai.
All Rights Reserved
#103
kolonial
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Indurasmi Batavia [𝒂 𝒉𝒊𝒔𝒕𝒐𝒓𝒊𝒄𝒂𝒍 𝒇𝒊𝒄𝒕𝒊𝒐𝒏]
  • SURYA DAN PARA TUAN MUDA (BXB HAREM)
  • Gundik
  • ORANJE
  • The Final Days of Batavia
  • Knielen
  • Serunai di Antara Dua Darah
  • Rich Daddy's Bad Girl (END)

Batavia, 1923. ❝Semua tentangmu adalah pesona, Nona. Sebuah puisi yang lebih nyata dari ilusi.❞ ~ Carel Arthur van Mook, 1923. Maka biarkan kisah ini mengalir bagai luka yang tak pernah sembuh, menganga dari masa ke masa. Ini bukan semata cerita tentang Alma, gadis dari tahun 2022 yang gagal menggenggam pas de deux-nya bersama sang Albrecht. Ini adalah elegi yang lebih kelam - tentang pria Belanda dari abad sembilan belas yang rela diperbudak oleh rindu yang perlahan merobek nuraninya hingga porak-poranda. Ini adalah kisah yang bukan untuk bahagia. Kisah ini adalah kisah luka yang terus terpendam. Di dalam hati mereka, ada ruang yang tak bisa terisi. Rindu yang terus tumbuh, tetapi tak pernah ada harapan untuk itu. Setiap detik yang berlalu, semakin terasa hampa, semakin terasa kosong. Alma tahu bahwa cintanya adalah sesuatu yang hanya ada di dalam mimpi, dan bahkan mimpi pun mulai hilang di antara awan mendung yang menutupi langit hatinya. Kisah ini bukan hanya tentang dua orang yang terpisah oleh waktu. Ini adalah tentang mereka yang merindukan sesuatu yang tak bisa dijangkau, yang selalu hanya ada di ujung jari, tetapi tidak pernah bisa digenggam. Sebuah harapan yang akhirnya terpecah, menjadi serpihan-serpihan kenangan yang hanya akan membuat hati semakin hancur. Rindu itu ... semakin berat, semakin tak tertahankan. ❝Semesta... tolong bunuh rindu ini. Tunjukkan bahwa Engkau bisa membuat rindu ini andam karam sampai tiada bersisa. Buat aku melupakan semua tentang indurasmi Batavia.❞ ~ Alma Himeka Badra, 2025. 🌕--------🌙--------🌕 ✧ [17+] ༆ sebuah fiksi sejarah, karya @sssakalade ✧ Agustus, 2020. (Update Sabtu & Minggu)

More details
WpActionLinkContent Guidelines