Elebra Darkness Demon

Elebra Darkness Demon

  • WpView
    LECTURES 14
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 3
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mer., mai 7, 2025
WpInfo
Fiction
Fantasy
Bjarga - sebuah pedang yang tak sekadar ditempa, bukan pula di buat dengan proses biasa, ia ada karena dilahirkan dari murka dan kegelapan, dari semua sifat keburukan, sedangkan Bilahnya hitam legam, berdenyut seperti urat api, seolah menyimpan jiwa-jiwa yang telah ia renggut. Dikatakan, Bjarga bukan dibuat untuk manusia, melainkan ditakdirkan bagi makhluk terkutuk - pembawa kehancuran dan haus darah. Pedang ini kini berada dalam genggaman Eleḃra, iblis api dari jurang terdalam Abyss, prajurit rendahan biasa, yang dipimpin oleh Thamuz sang Panglima Neraka. Eleḃra memang prajurit biasa, namun ia tak sekadar seorang monster prajurit, ia bukan pula seorang prajurit yang membawa api yang membakar tubuh, melainkan sebuah bara kebencian yang membakar dunia. Dan di tangannya, Bjarga menjadi lebih dari senjata: ia menjadi simbol kutukan, perang, dan akhir dari semua kedamaian dunia.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Syal Merah
  • Menentukan Takdir Antagonis
  • Axel Wargenstranger : Fragment Of The Black Pact
  • Kesempatan Kedua Mengubah Masa Depan
  • PENGERAJIN DAN PEDANG LEGENDARIS
  • Archeron

Lihatlah manusia.... makhluk berakal, katanya, tapi berakal hanya untuk merancang kehancuran dengan cara yang lebih efisien dari iblis manapun. Mereka lahir dengan tangan kosong, namun tumbuh dengan jemari yang tak pernah cukup menggenggam. Satu takhta tak cukup, satu negeri terlalu sempit, satu nyawa tak sebanding dengan harga ambisi. Mereka mencipta Tuhan dari kaca dan bayangan, lalu menjadikannya alasan untuk menyalakan api di rumah sesamanya. Lalu, ketika tubuh hangus terbakar, mereka berkata: "Ini takdir, ini suci." Padahal semua hanya siasat licik, untuk menjarah lebih banyak, menguasai lebih dalam. Di medan perang, tidak ada musuh sejati, hanya cermin-cermin retak yang saling menuduh bayangan masing-masing sebagai setan. Manusia menanam senyum di bibir diplomasi, sementara tangannya menandatangani pengiriman peluru ke tempat di mana anak-anak belajar menyebut "ayah". Dan ketika tanah itu retak oleh ledakan, dan langit pun tak sudi menurunkan hujan, mereka berkumpul di ruang rapat ber-AC, membahas damai yang bisa dijual dengan harga saham. Oh, manusia bukan makhluk sosial- mereka makhluk serigala yang diajari mengenakan jas. Mereka berdiri di atas kuburan sambil berkata: "Semua demi kemajuan." Apa makna "maju", jika harus melangkahi mayat? Apa artinya "kebebasan", jika harus dipaksa dengan moncong senjata? Mereka mencipta kata-kata indah- "perjuangan", "nasionalisme", "pengorbanan", tapi semuanya hanya selimut untuk menutupi nafsu kekuasaan yang menjijikkan. Sejatinya, manusia mencintai kehancuran- sebab di puing-puing itu, mereka bisa membangun kerajaan atas nama harapan, padahal fondasinya dari daging dan darah. Tak ada yang suci dalam perang. Tak ada yang heroik dalam membunuh. Yang ada hanyalah manusia- yang selalu lapar, selalu haus, selalu ingin menjadi Tuhan tanpa pernah bisa menjadi manusia,.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu