Motivasi Yang Hilang

Motivasi Yang Hilang

  • WpView
    Dibaca 74
  • WpVote
    Vote 11
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadLengkap Min, Jun 8, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Dikara... Kau memakai jilbab, tutur katamu sopan, dan tingkahmu lemah lembut aku terpesona dengan kecantikanmu, hari berganti hari, rasanya aku makin menyukaimu, tapi aku tahu, mungkin kau hanya menganggap ku sebagai teman biasa, tapi aku menyayangimu dikara, aku tak tahan..."setiap kali kamu sedih, aku ingin jadi alas tangismu. Tapi aku hanya bisa menatap, dan diam." *** Satu yang tak pernah kau ketahui kita hidup berbeda keyakinan ayahku adalah seorang pastur, sedang keluargamu adalah muslim. Kita tak mungkin sejalan...keluargamu tak mungkin menerimaku biarkan aku simpan kisah ini. "Apa jadinya jika rasa sayang harus dipendam karena perbedaan agama?" "Bagaimana dikara bertahan tanpa alasan yang dulu menguatkannya?" Lalu mampukah dia bertahan tanpa ada tempat tuk berpulang! By. trinity__stories ©All Right Reserved
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Let Me Love You Longer
  • Untuk Ingatan Sepanjang masa
  • FANAYA✔
  • Surat Untuk Takdir [ ON GOING ]
  • Maaf' (Revisi)
  • HADIAH DARI LANGIT [END]
  • Different [END]
  • Raga Arga  [Sudah Terbit]

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan