Our Gun [TES]

Our Gun [TES]

  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 10, 2025
One-shot ini merupakan spin off dari cerita utama OCs-ku yang belum rilis (Out of Hurricane). Blurb : London, 1980. Di antara kilau lampu kristal dan bayang-bayang konspirasi, dua anjing pemburu kesayangan dari organisasi yang saling mencurigai dipertemukan oleh takdir-kejam, namun memesona. Oliver Finley, pria Inggris dengan lidah setajam silet dan sorot mata yang lebih dingin dari malam kota, hanya ingin memastikan transaksinya berjalan lancar. Ia tidak menyangka bahwa wanita penghubung dari Timur- Sonya Feodorovna- datang membawa lebih dari sekadar informasi. Obrolan yang seharusnya singkat berubah menjadi tarik-ulur berbahaya antara dua jiwa yang terlalu terlatih untuk percaya... namun terlalu cerdas untuk menyangkal rasa. Dalam medan misi yang membunuh, benih ketertarikan tumbuh diam-diam-dibisikkan lewat kalimat sarkas dan tatapan penuh makna.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Red Horizon
  • Merciless Ex Obsession [END✅]
  • Broken Trust
  • Damien's Possession ✔️ (Mavros Series #2)
  • ✓𝐐𝐔𝐈𝐃𝐃𝐈𝐓𝐂𝐇 𝐂𝐀𝐏𝐓𝐀𝐈𝐍ೃ‧₊›- 𝙊𝙇𝙄𝙑𝙀𝙍 𝙒𝙊𝙊𝘿 [HP]
  • My Bully My Obsession GxG(Season 2)
  • The Secrets of Prince

Mereka tidak pernah benar-benar bertemu. Hingga takdir mempertemukan mereka di bawah logo kuda jingkrak, di mana garis antara kemenangan dan kehancuran begitu tipis-mereka mulai melihat satu sama lain dengan cara yang berbeda. Dibayangi oleh masa lalu, di tengah sorotan media, tekanan tim, dan lintasan yang menuntut lebih dari sekadar kecepatan, keduanya terjebak dalam permainan yang lebih berbahaya dari balapan mana pun-sebuah permainan antara kehilangan, ambisi, dan perasaan yang tak seharusnya ada. [Spoiler] "I made a playlist," ucapnya singkat, suaranya nyaris berbisik. "Thought you might like this one." Evie ragu sejenak, tapi jari-jarinya mengambil earphone itu dengan hati-hati. Satu sisi ia pasangkan di telinganya, sisi lain sudah tersemat di telinga Theo. Kabel putih itu jadi satu-satunya benang yang menghubungkan mereka sekarang. Nada awal dari lagu pertama mulai terdengar. Lembut, namun menghantam. Gitar pertama berdenting seperti udara malam yang masuk lewat jendela, menggores pelan ke tulang. Drum-nya pelan, tapi mantap-seperti detak jantung yang tak bisa dipadamkan. Evie tak siap. Dadanya mencelos saat suara itu masuk. Every breath you take... Ia mengedip cepat, menahan sesuatu di balik tenggorokannya. Matanya tetap tertuju ke jendela, tapi ia tak lagi melihat apa pun di luar sana. Yang ada hanyalah suara, dan Theo di sampingnya-begitu dekat, panas tubuhnya terasa sampai ke tulang rusuk Evie. Seketika, ia sadar betapa ia merindukan kedekatan ini. Rindu akan diamnya Theo. Rindu aroma musk lembut yang entah kenapa selalu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Theo memejamkan mata, kepalanya sedikit menunduk. Ia tak bicara. Tak bergerak. Tapi keberadaannya... menciptakan kehadiran yang tak bisa diabaikan. Every move you make Every step you take I'll be watching you... Evie menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahu apakah ini permintaan maaf atau sekadar bentuk penghiburan. Tapi yang jelas, ia tak sanggup menolaknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines