RUMAH UNTUK PULANG

RUMAH UNTUK PULANG

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 9, 2025
Ini bukan kisah yang selalu indah, tapi kisah tentang seorang perempuan yang mencoba tetap hidup meski sering merasa hampa. Dia menuliskan potongan demi potongan hatinya, tentang luka masa kecil, kehilangan, dan rasa takut yang tak pernah benar-benar pergi. Namun di balik semua itu, ada keberanian untuk bertahan, dan harapan kecil yang tumbuh dari kata demi kata. "Rumah untuk Pulang" bukan sekadar buku. Ini adalah ruang sunyi tempat seorang perempuan belajar mendengarkan dirinya sendiri- untuk pertama kalinya. Buku ini bukan tentang menjadi sempurna. Tapi tentang menjadi utuh, meski tak lagi sama. Karena kadang, satu-satunya rumah yang bisa kita pulang adalah hati kita sendiri.
All Rights Reserved
#94
part
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Juan [REVISI]
  • Luka 🔞 (HeeKi ft.Sunghoon & Jay)
  • RUMAH DI ANTARA DUA MATA
  • Rasa Tanpa Kata
  • The Blooming Lady [completed]
  • Derana Duka (lengkap)
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Look at Me, MAMA! ✔
  • Puing luka

Ini bukan kisah romansa dimana si pangeran sekolah jatuh cinta dengan primadona sekolah, bukan pula kisah si badboy yang jatuh cinta dengan seorang gadis polos, apalagi kisah si tukang bully yang jatuh cinta dengan korbannya. Sekali lagi ku ingatkan, ini bukanlah kisah romansa remaja masa kini. Kisah ini hanyalah perjalanan hidup seorang remaja dalam menjalani hidupnya. Ini kisah seorang remaja yang mencoba bertahan di tengah kerasnya dunia, dimana ketidakadilan benar-benar nyata. Cerita ini penuh dengan diskriminasi terhadap ia yang tidak 'sempurna'. Tentang mereka yang terjebak dalam nerakanya dunia. Tentang segala luka dan tangisan yang teredam. Tentang ketidakadilan yang ia rasa, sebab keadilan hanya milik mereka yang 'berpunya'. Kisahnya tidak berhenti di sana, sebab masih banyak luka yang akan ia rasa. Mereka yang ia harapkan dapat menyembuhkan luka, nyatanya hanyalah pemberi luka paling banyak. Ia hanya berharap hadirnya dapat diberi kasih, tapi bagaimana bisa jika hadirnya saja tak pernah diharapkan. Karena ia adalah hadir yang membawa luka. Jangan pikir bahwa ia tak pernah melawan, karena nyatanya, ia akan selalu melawan meski perlawanannya tak pernah membuahkan hasil. Sebab keadilan bukanlah miliknya. Memangnya apa yang bisa diharapkan di dunia ini? Jika memang masih ingin bertahan, maka jangan terlalu berharap kepada seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines