Santri Di Zaman Orde Baru
25 parts Complete MatureSetelah peristiwa pemberontakan PKI, kehidupan di Pesantren Al-Hikmah masih diliputi ketegangan. Di tengah harapan dan ketidakpastian, muncul Gerakan Darul Islam yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, yang mengancam stabilitas wilayah. Budi dan Agus, sebagai ustadz, berjuang untuk mempertahankan pesantren dan mengedukasi santri agar tidak terjerumus dalam konflik yang merusak.
Di saat situasi semakin memanas, Ustadz Harun, yang memiliki agenda pribadi, menghasut para santri untuk bergabung dengan gerakan tersebut, menciptakan perpecahan di antara mereka. Meskipun banyak santri muda terpengaruh, Budi dan Agus berusaha keras untuk menjaga persatuan dan keutuhan pesantren, meski mereka menjadi sasaran kebencian.
Melalui pelatihan dan pengorganisasian, Roni, salah satu santri yang bersemangat, bersama dengan Dedi dan Amir, memimpin upaya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung di pesantren. Mereka menghadapi ancaman dari luar dengan keberanian dan kebersamaan, sambil berusaha untuk tetap fokus pada pendidikan dan pengembangan karakter.
Dalam perjalanan mereka, para santri belajar tentang pentingnya solidaritas dan keadilan, meskipun harus menghadapi tantangan yang mengancam keselamatan mereka. Melalui berbagai pertempuran, baik fisik maupun ideologis, mereka berjuang untuk masa depan yang lebih baik.
Dengan pengorbanan dan semangat juang yang tinggi, pesantren Al-Hikmah bertahan. Saat Gerakan Darul Islam mulai melemah dan operasi militer "Pagar Betis" dilaksanakan, santri akhirnya menyadari bahwa persatuan adalah kunci untuk mengatasi segala tantangan.
Novel ini menggambarkan perjalanan penuh liku para santri dalam mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan pendidikan di tengah gejolak politik dan sosial, serta perjuangan mereka untuk menggapai harapan di masa yang penuh ketidakpastian.