langit tak biru lagi

langit tak biru lagi

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 2, 2026
Aku tak pernah menyangka hidupku akan berubah dalam sekejap. Dulu aku bisa tertawa bebas, berlari, dan melihat langit biru yang luas-tapi semua itu terasa seperti mimpi yang hilang terlalu cepat. Aku masih ingat rasa panas di tubuhku, rasa sakit yang tak bisa dijelaskan, dan cahaya yang perlahan memudar dari pandanganku. Saat orang lain menangis dengan air mata, mataku hanya diam. Tak bisa menangis. Tak bisa bicara. Tak bisa menjelaskan rasa perih yang menelan semuanya. Aku adalah anggun. Gadis kecil yang harus belajar menerima kenyataan bahwa langitnya tak lagi biru. Bahwa hidupnya akan dipenuhi tetesan obat, ruang rumah sakit, dan doa-doa panjang yang menggantung di udara. Tapi di balik gelapnya hari-hari itu, aku menemukan sesuatu: kekuatan yang tak pernah kukira aku miliki. Bukan kekuatan untuk melawan sakit, tapi untuk tetap berdiri, walau tertatih. Untuk tetap bernapas, walau dada sesak oleh luka yang tak tampak. Inilah kisahku. Kisah seorang anak yang hampir kehilangan segalanya-tapi masih punya harapan. Karena meski langit tak lagi biru, aku tahu... masih ada cahaya di balik mendung.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Cerita Tentang Kita
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Sepotong Kekosongan [ THE END ]✔︎
  • My Dear Brother | Haruto & Jeongwoo
  • Senja Yang Tak Kembali
  • Full Of Scratches
  • Strong Boy (End)
  • Sejenak Luka
  • CAN'T GET OVER YOU [COMPLETED]

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines