naira, anak pertama yang sejak kecil terbiasa memendam, menunduk, dan menuruti. hidup di bawah atap yang seharusnya menjadi tempat pulang, justru membuatnya kehilangan arah. suara ibu terlalu sering membentak, tapi tak pernah bertanya, "kamu baik-baik saja?".
hubungan yang seharusnya jadi tempat sandar pun direnggut-bukan oleh waktu, tapi oleh restu yang tak pernah datang. di tengah beban sebagai tulang punggung diam-diam, naira mencoba bertahan: lewat tulisan, lewat tangis yang ia simpan sendiri.
Malam itu, Rangga bersembunyi di balik lemari, menahan nafas sambil menyaksikan pemandangan yang akan mengubah hidup selamanya. di depan matanya, ayahnya terkapar bersimbah darah dan pamannya Nathan berdiri dengan belati yang masih meneteskan darah. " maafkan aku, ini harus kulakukan," bisik Nathan dingin sebelum pergi, meninggalkan Rangga sendirian di tengah duka dan ketakutan. akankah Rangga mampu balas semuanya atau malah melupakan dan memilih berdamai?
mari kita saksikan cerita selengkapnya.