Cahaya di Antara Dua Dunia

Cahaya di Antara Dua Dunia

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 4, 2025
Di bawah cahaya lembut sebuah lilin, terpampang sebuah pertemuan yang begitu halus dan penuh tata krama, seolah diambil dari halaman sebuah novel kehidupan yang belum ditulis. Tatapan mereka bertemu-bukan dengan gairah membara, melainkan dengan rasa ingin tahu yang lembut, penuh penghargaan. Ia menundukkan kepala, bukan hanya karena adat, tetapi karena keindahan sederhana dari momen itu, dari dirinya. Ia tidak berkata apa-apa, dan tidak perlu-sebab kadang, dalam diamlah sebuah cerita paling dalam dapat dimulai. Dan demikianlah, di ruangan penuh hiruk-pikuk dan suara langkah para tamu, sepotong kisah kecil pun dimulai. Bukan kisah tentang cinta yang membara, tetapi tentang pertemuan dua dunia yang berbeda-yang saling menyapa dalam ketenangan dan cahaya lilin.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Langit Senja di Kota Nabi
  • STAR ALIGN
  • CAHAYA  YANG MASIH TERTAUT PADA BINTANG
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Under the Moonlight
  • Laut dan Langit
  • Kelamkari
  • LOST SIGNAL

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines