⚠️𝗜𝘀𝗶 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗰𝘂𝗸𝘂𝗽 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗰𝘂 𝘁𝗿𝗮𝘂𝗺𝗮 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗶𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮. 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗸𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗸𝘀𝘂𝗮𝗹, 𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵 𝗱𝗶𝗿𝗶, 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗱𝗲𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗶 𝗱𝗲𝘄𝗮𝘀𝗮. 𝗠𝗼𝗵𝗼𝗻 𝗹𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗯𝗶𝗷𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗶𝗹𝗶𝗵 𝗯𝗮𝗰𝗮𝗮𝗻⚠️
───────────────────────────
Kaki berdarah itu terseok menuju tali tergantung di atas. Kursi dipeluknya seperti sandaran terakhir. Ia tertawa keras, kosong. Alkohol yang telah tandas membuat tubuhnya sempoyongan.
Dari saku daster, ia mengeluarkan foto sepasang kekasih yang tersenyum hangat. Jemarinya meremas kertas itu. "Semua sudah berakhir, kan?" Wajahnya berubah datar.
Namun, Rasa semangat membara beberapa waktu lalu beralih takut. Suasana gelap karena jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari, sedikit menggoyahkan tekad. Ia benci kegelapan, bahkan tidur biasa dalam keadaan terang. Tapi untuk malam ini, ia memutuskan untuk membuat apapun di sekitarnya tak terlihat. Meski cahaya rembulan masih menyapu manis jendela kamar, menyisakan bias pucat di lantai.
"Semua sudah berakhir."
Ia mengulangi ucapan yang sama. Air mata mengalir ke pipi begitu deras, seolah membuktikan seberapa putus asa dirinya, "sudah habis kuatku, sudah habis."
Ia mengalungkan tali ke leher kemudian menggeser kursi yang sedari tadi menjadi tumpuan berpijak. Gadis itu terbatuk, merasa sesak napas hebat saat tercekik kuat. Ia memejamkan mata, tenggorokannya panas terbakar.
Tubuhnya berontak naluriah, namun tekad yang tersisa menahannya untuk tidak meraih kembali. Memori beberapa hari terakhir berputar cepat. Rasa bersalah, rasa kotor, rasa kehilanga
All Rights Reserved