Tak semua rasa harus diumbar dengan kata, kadang cukup disimpan dalam bentuk paling sederhana sebuah makanan kesukaan, sepotong gehu.
Azara tak pernah menyangka bahwa di balik sikap tenang dan wibawanya beliau, ada kedalaman rasa yang perlahan tumbuh dalam diam. Di pesantren yang penuh batas dan aturan, mereka hanyalah dua nama yang saling mengenal lewat tatapan dan doa.
"Gehu" menjadi simbol kebersamaan mereka yang tak pernah benar-benar bersama.
Sebuah kisah tentang rasa yang suci, tak harus dimiliki, cukup diabadikan. Kali ini, bukan tentang memilih di antara dua nama, tapi memahami bahwa cinta sejati seringkali cukup untuk dilangitkan, bukan digenggam.
All Rights Reserved