Lampu Gantung [Tahap Revisi]

Lampu Gantung [Tahap Revisi]

  • WpView
    Reads 1,489
  • WpVote
    Votes 334
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Fri, May 1, 2026
Toko barang antik di ujung jalan itu telah berdiri sejak 1985, bangunan tersebut dimiliki oleh pasangan suami istri. Seorang pria Tionghoa dan seorang wanita pribumi yang bersama-sama merintis usaha koleksi barang antik. Di tangan mereka, benda-benda lama yang dianggap tak berguna justru menemukan nilai baru. Namun, seiring waktu, kehidupan di balik toko itu mulai retak. Hubungan Liang Wei yang akrab dipanggil 'Engkoh' dan Mbah Lastri memburuk akibat kebiasaan buruk, amarah, dan masalah yang terus menumpuk. Pertengkaran demi pertengkaran menjadi pemandangan yang tak asing, bahkan merusak isi toko yang selama ini mereka bangun bersama. Hingga akhirnya, perpisahan tak terelakkan. Perceraian itu bukan hanya memisahkan dua orang, tetapi juga membelah kehidupan anak-anak mereka. Mbah Lastri terpaksa merelakan salah satu anaknya pergi bersama Liang Wei ke Jakarta. Sejak saat itu, hari-harinya dipenuhi kecemasan dan rindu, hanya bisa memastikan keadaan anaknya lewat panggilan singkat yang jarang terjawab.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Dalam Mekarnya Bunga
  • Secangkir Tawa, Sebotol Air Mata
  • The Midnight Bride [TAMAT]
  • CALL ARGO
  • Melihat Cinta dalam Gelap
  • Larasati- Napas Dari Masa Lalu
  • ''Laura''

Lila percaya bahwa cinta mirip bunga. Ia tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Ia butuh waktu, kehangatan, dan keberanian untuk mekar di tengah dunia yang kadang terlalu dingin. Hidup Lila selama ini sederhana, tenang, seperti angin pagi di antara deretan bunga matahari yang menghadap ke timur. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan warna-warni kelopak dan wangi tanah basah. Ia merawat bunga seperti merawat dirinya sendiri-penuh kelembutan, tapi juga penuh kehati-hatian. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika ia bertemu Arka. Arka datang seperti angin musim gugur: dingin, tak terduga, dan membawa sesuatu yang membuat dedaunan gugur satu per satu. Ia bukan pria yang datang dengan tawa lebar atau kata-kata manis. Ia hadir dengan sorot mata yang tajam, langkah yang berat, dan diam yang penuh rahasia. Lila bisa merasakannya-ada beban yang dibawa pria itu, sesuatu dari masa lalunya yang belum selesai. Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Arka sedang mencari bunga untuk seseorang yang telah tiada. Lila, seperti biasa, tengah menyusun rangkaian bunga mawar putih di toko kecil peninggalan ibunya. Tak ada yang istimewa, kecuali cara Arka menatap bunga seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Dan sejak saat itu, dunia Lila mulai berubah. Perlahan, kehadiran Arka menjadi bagian dari hari-harinya. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka saling memahami. Lila menemukan kehangatan di balik dinginnya sikap Arka, dan Arka menemukan ketenangan dalam mata Lila yang jujur. Tapi cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah cinta yang mudah. Ia datang membawa ujian, luka lama, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Karena Arka tidak datang dengan hati yang utuh. Dan Lila bukan gadis yang bisa mencinta setengah-setengah. Mereka seperti dua bunga yang mekar di musim berbeda-saling mendekat, tapi takut layu sebelum waktunya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines