We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Seutas Nafas

Seutas Nafas

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 7, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Aku pernah percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Sampai akhirnya yang paling aku cintai justru yang paling banyak membuatku berdarah. Pernah suatu hari, aku berdiri di antara orang-orang yang paling riang tertawa, tapi anehnya, yang kurasa hanya sunyi. Aku terlalu sering berpura-pura kuat, menghadapi dunia yang tak pernah memberiku waktu untuk sekedar istirahat. Saat semua orang menuntut aku baik-baik saja, aku bahkan lupa bagaimana rasanya dicintai tanpa harus diminta. Ini kisah tentang luka yang tak bisa sembuh hanya dengan waktu. Ini tentang aku, yang bertahan bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan lain. Seutas nafas yang tersisa, akan aku tulis semuanya, sebelum aku lupa rasanya hidup.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hopeless
  • Reinata
  • As Time Allows
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]
  • Terkulai Tapi Tak Layu
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Yang Tertinggal
  • Cempaka Terakhir ✔
  • Perasaan Yang Terpendam
  • Everything Between Us (ON GOING)
Hopeless

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines