Aku Gak Sekuat Itu

Aku Gak Sekuat Itu

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 12, 2025
Bertahan itu bukan selalu tentang menjadi kuat. Kadang, bertahan itu tentang melawan perasaan yang ingin menyerah. Tentang menahan tangis yang sudah hampir keluar, tentang mencoba tersenyum meski hati terluka. Aku bukan orang yang selalu terlihat tangguh. Bahkan, aku nggak sekuat itu. Setiap hari aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku bisa melewati semua ini, tapi terkadang hidup terasa begitu berat. Aku merasa terjebak dalam rutinitas yang memaksaku berpura-pura baik-baik saja, padahal di dalam, semuanya hancur. Aku ingin bilang, aku nggak sanggup lagi, tapi kata-kata itu selalu tertahan. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu kuat, aku hanya ingin ada yang mengerti bahwa terkadang, kita juga butuh waktu untuk merasakan kelemahan kita. Bahwa nggak apa-apa untuk merasa jatuh, karena mungkin dari situ kita bisa belajar untuk bangkit lagi, perlahan. Start Rabu 7 mei 2025 Ending????
All Rights Reserved
#97
sena
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Yang Tak Kembali
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • Mahligai Sunyi
  • Di Balik Nama Zella
  • flashback~
  • Villain Also Has A Reason [END]
  • For My Heart
  • Menanti Hangatnya Hati

Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padanya. Pada warna jingga yang memudar perlahan, pada langit yang semakin gelap, dan pada perasaan yang tak pernah benar-benar pergi. Aku masih mengingatnya dengan jelas- hari pertama aku melihatnya, tawa kecilnya yang ringan, dan caranya berbicara seolah dunia ini adalah tempat yang penuh keajaiban. Aku juga masih ingat saat aku akhirnya mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaanku, hanya untuk mendengar jawaban yang sudah kutakutkan sejak awal. "Aku nggak bisa, Rak... Maaf." Kalimat itü terus terulang di kepalaku, seperti kaset rusak yang tak bisa kuhentikan. Tapi anehnya, aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Mungkin ini bodoh. Mungkin aku hanya menggenggam sesuatu yang seharusnya kulepaskan sejak lama. Tapi, bagaimana caranya melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari diri sendiri? Senja yang pernah menyatukan kami kini menjadi saksi bahwa beberapa hal memang tidak bisa kembali seperti dulu. Namun, meski tak bisa kumiliki, aku masih menyimpan perasaan ini. Bukan untuk berharap, bukan untuk menunggu, tetapi sekadar untuk mengenang bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan seluruh hatiku. Dan itu sudah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines