Memoar 35

Memoar 35

  • WpView
    Reads 215
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadComplete Sat, May 24, 2025
Refleksi 35 tahun kehidupan yang sekaligus menjadi lambang perpisahan atas masa lalu serta trauma yang membekas dalam di dalam diri. Walau di saat penulisan masih ada rasa trauma yang terpancing dan memicu perasaan marah dan kecewa. Sekalipun aku tahu kalau aku sudah mengobati dan kembali mencintai diriku lebih baik. Dengan ini, aku ingin menutup segala kenangan yang buruk, manusia yang merasa dan menganggap diri mereka layak untuk menyebut sebagai anggota keluarga. Aku sadar aku tidak memiliki keluarga, aku sadar aku tidak butuh keluarga, aku sadar kalau Tuhanku tidak meninggalkan aku. Sehingga IA mengenalkan aku kepada teman-teman yang mau dan setia menemaniku melewati fase-fase terburukku. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi teman-teman yang butuh support.
All Rights Reserved
#109
reflection
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Halaman Hidupku
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • KETIKA LABEL TIDAK LAGI MENENTUKAN SIAPA KITA
  • Rasa Tanpa Kata
  • Different [END]
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • Slow Days (FIN)
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓

patah mana yang tak kupulihkan sendiri, sakit mana yang belum pernah ku rasakan. Saat dunia menuntutku tegar tanpa memperdulikan bagaimana aku bertahan. Setiap luka selalu ku peluk dalam diam, sembari belajar mencintai diriku yang perlahan hancur. Mereka selalu melihat senyumku, tapi tak pernah tau pertempuran yang ku rahasiakan di balik hati dan pikiranku. Aku berjalan dengan hati yang lelah, namun tetap berdiri meski runtuh dalam sunyi. Aku menangis tanpa suara, meratap dalam jiwa yang hampir mati rasa. Bahkan nafas pun terasa sesak, seolah dunia tak memberiku kesempatan untuk sekedar tenang. Sebab kalau bukan diriku, siapa lagi yang memeluk hatiku sendiri, saat semua memilih pergi ketika aku paling membutuhkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines