Aletheia Selaksa

Aletheia Selaksa

  • WpView
    Reads 245
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 31
WpMetadataReadMatureComplete Tue, May 13, 2025
Perempuan yang hatinya menjelma lautan dalam tenang di permukaan, padahal gemuruh di dasar tak pernah berhenti bergelora. Namanya Aletheia Selaksa. Ia bukan perempuan biasa. Dalam dirinya, mengalir ribuan luka yang tak kasat mata. Ia tersenyum seperti mentari pagi, hangat dan meyakinkan. Tapi di balik matanya, ada senja yang tak pernah pulang, ada kabut yang tak kunjung reda. Ia gadis dari masa kecil yang tak pernah menjadi taman bermain, tapi medan perang yang memaksanya bertahan, bahkan sebelum ia tahu apa itu bertahan. Aletheia bukan gadis yang merengek pada dunia. Ia tak pernah meminta simpati. Ia berdiri, berjalan, lalu berlari meski tiap langkahnya seperti menapaki pecahan kaca dari kenangan yang hancur. Ia menyimpan semua dalam diam, dalam tulisan, dalam malam-malam panjang yang tak pernah selesai. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia memilih menjadi rumah bagi orang lain, meski dirinya sendiri belum pernah benar-benar memiliki rumah. Ia jadi pelita bagi sahabatnya, meski ia sendiri berjalan dalam gelap. Ia menjadi pelindung, meski hatinya sudah lama butuh dipeluk. Namanya Aletheia Selaksa. Gadis dengan luka sebanyak bintang, tapi masih bisa menyinari langit orang lain.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Cerita yang Tak Selesai ✨💔🌙 || TAMAT
  • ALLER
  • Tidak ada yang pernah mendengar teriakku
  • HE IS MY HERO [TAMAT]
  • ALASKALETTA
  • HEART OF FIRE [End]
  • ARIEANNA

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines