Kos-Kosan Kacau Balau

Kos-Kosan Kacau Balau

  • WpView
    Reads 127
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadComplete Sat, May 17, 2025
Ketika Dimas, mahasiswa baru yang polos tapi sialan, pindah ke sebuah kos sederhana di pinggiran kota, hidupnya berubah total dan bukan ke arah yang dia harapkan. Kos milik Bu Yeti, seorang ibu kos galak dengan logika tak terbantahkan, menjadi panggung kekacauan penuh tawa. Dimas harus bertahan hidup di tengah perang rebutan kamar mandi, mie instan yang misterius menghilang, tetangga kos yang terlalu dramatis dan Ucup seorang konten kreator gagal yang hobi bikin ulah. Setiap hari, ada saja kejadian absurd kaya karaoke tengah malam, surat cinta nyasar ke ibu kos, sampai kontes bakat aneh yang mengundang tawa sekaligus rasa malu mendalam. Di antara kekacauan, terselip cerita persahabatan, perjuangan kuliah, dan pelajaran hidup yang disampaikan lewat tawa lepas. Satu hal yang pasti adalah hidup di kos ini tidak pernah membosankan. Justru... makin kacau, makin seru!
All Rights Reserved
#32
koskosan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jomblo di eskul Pramuka
  • HOUSE OF ABSURD
  • Horibble Woman (END)
  • Medium Ugly
  • Cinta Itu Kayak Skripsi - Kalau Nggak Dicicil, Nggak Kelar-Kelar!
  • Ibu Pejabat di Balik Tirai
  • Friendlove
  • EN-KOS (7 bujang Enha)
  • Yupi's Effect

"Mulai hari ini kamu ibu masukkan ke dalam eskul pramuka, bahagialah!" Entah kenapa di akhir kalimat, pengucapan ibu Fatimah begitu menekan ke dalam jantungku. "Tung--Tunggu dulu bu. Saya belum pernah menyetujuinya" "Apakah itu harus?" Nada dingin dan sentuhan tangan beliau langsung menjalar ke urat nadiku "I--itu tergantung dengan situasi dan persepsi dari--" "Mana jawabanmu?" "Baik bu" Sial... Kenapa mulutku tak memikirkan nasibku yang akan datang. "Yaah, ibu tau kamu malu kok" (Bu! Hentikan omong kosong anda) Begitulah kalau aku punya nyali untuk mengucapkannya. "Nandi, mulai hari ini, dia bergabung dengan eskul pramuka" Ibu Fatimah mendekati seorang wanita yang dari tadi memperhatikan kami. Kalau aku bilang, lebih seperti seorang anak kecil sedang memperhatikan anak kecil lainnya yang sedang dipaksa oleh orang yang lebih tua. Entah apa yang mereka bisikkan di sana, tapi aku yakin, pasti itu bersangkutan dengan privasi yang kujaga lebih dari apapun. "Dimas, Nandi juga setuju dengan ini. Jadi kau sepulang sekolah bisa langsung ke ruang pramuka nanti" Lalu beliau tersenyum. Entah kenapa senyuman tersebut mempunyai maksud yang berbeda dari apa yang dia katakan sebelumnya "Jangan kabur ya..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines