Cinta Di Meja Nomor Tujuh

Cinta Di Meja Nomor Tujuh

  • WpView
    Reads 1,082
  • WpVote
    Votes 217
  • WpPart
    Parts 48
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Feb 25, 2026
Di sebuah bar live music di jantung kota Bandung, Devia-mahasiswi enerjik yang sporty dan spontan menerima tantangan gila dari teman-temannya: menyapa seorang cowok asing yang duduk sendirian di meja nomor tujuh. Cowok itu ternyata Frans, pria berkacamata dengan gaya santai tapi elegan, lima tahun lebih tua, dan punya cara pandang hidup yang jauh berbeda. Apa yang awalnya cuma iseng-iseng jadi perkenalan tak terduga yang pelan-pelan berubah jadi hubungan penuh tawa, kebingungan, debat seru, dan kedekatan yang sulit dijelaskan. Dari obrolan receh sampai mimpi besar tinggal di London, keduanya berusaha menjembatani jurang usia dan karakter yang bikin mereka sering salah paham tapi juga makin terikat. Dalam suasana perkotaan yang hidup dan obrolan khas anak muda, Cinta di Meja Nomor Tujuh mengajak pembaca menyelami dinamika hubungan dua orang yang mencoba saling memahami di tengah tantangan usia, ekspektasi, dan mimpi-mimpi yang ingin dikejar bersama.
All Rights Reserved
#945
musik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • INTUISI || ft. Tokuno Yushi
  • Abisatya || Harlan & Mavendra
  • Relationship
  • BLOOMING [END]
  • Unintelligible (Complete)
  • Secangkir Kopi & Pencakar Langit (#1)
  • Kumpulan Novelet Romansa (one shoot)

Seratus Meter dari Hatimu Dulu, kupikir jarak paling rumit adalah antara dua kota. Antara kampung halaman dan ibu kota. Antara kenyamanan yang kutinggalkan dan dunia baru yang sedang kucoba taklukkan. Tapi ternyata, jarak yang paling sulit bukan soal kilometer atau waktu tempuh. Jarak paling rumit adalah seratus meter dari hatimu-tempat aku berdiri, tapi tak pernah benar-benar kau sadari. Segalanya berawal biasa saja: kos baru, teman sekamar yang bawel tapi hangat, lingkaran pertemanan yang mengisi hariku dengan tawa, tugas, kopi sachet, dan obrolan tengah malam. Aku merasa cukup. Nyaman. Aman. Hingga seseorang hadir dengan caranya yang tak terduga. Terkadang ceplas-ceplos, kadang diam dan terlihat jauh. Dia bukan tokoh utama di hidupku, bukan pula pangeran dalam kisah dongeng. Tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa seperti rumah dalam keriuhan kota. Sayangnya, tak semua rasa harus tumbuh. Dan tak semua perhatian berarti istimewa. Ini kisahku, Caca. Seorang mahasiswi yang mencoba bertahan di antara tumpukan tugas, tawa tongkrongan, dan teka-teki bernama Arvin. Ini tentang dua circle pertemanan, dua sisi dunia, dan satu rasa yang pelan-pelan ingin ku bungkam. Karena terkadang, menyukai seseorang tak harus dimiliki. Cukup dilihat dari kejauhan-seratus meter, atau bahkan lebih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines