DOSA DIAM
  • WpView
    Reads 122
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 18, 2025
Di balik pagar tinggi dan lantunan ayat yang terus mengalun, ada tempat yang tampak damai. Setiap hari diatur oleh jadwal yang sama, suara azan yang memanggil, dan wajah-wajah yang seolah tenang. Tapi ketenangan tak selalu berarti aman. Beberapa datang ke tempat itu untuk mencari ilmu, sebagian untuk mencari arah. Namun ada yang datang membawa beban yang tak kasat mata, beban yang tak bisa ditinggal di luar gerbang. Di dalam kamar-kamar sempit dan lorong-lorong yang tak pernah benar-benar sepi, sesuatu mengintai. Bukan sosok. Tapi perasaan. Tekanan. Dendam. Dan rasa bersalah yang tak pernah padam. Apa yang terjadi di masa lalu seolah terkubur rapi. Tidak ada yang berani membicarakannya, apalagi menanyakan. Tapi diam tidak pernah benar-benar memadamkan kebenaran. Ia hanya menundanya... sampai waktunya tiba untuk muncul dalam bentuk yang tak terduga. Dan ketika suara-suara samar mulai terdengar saat malam tiba, ketika tatapan menjadi dingin dan doa-doa terasa hampa-seseorang tahu bahwa tempat itu tidak lagi menjadi tempat berlindung. Tapi medan perang yang sunyinya bisa membunuh siapa saja yang memilih tetap diam.
All Rights Reserved
#787
pesantren
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • setangkai mawar di musim dingin
  • Behind the Silence
  • Kaca yang retak
  • "Bisikan Senior di Lorong Sunyi"
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)
  • Ikhlasku Merelakanmu (END)
  • Paragon of Noctis Mirage
  • NOESIS [END]

Musim dingin membawa pulang Alina ke rumah tua peninggalan keluarganya-tempat di mana kenangan, luka, dan rahasia masih membeku bersama salju. Sepuluh tahun lalu, sahabat-sahabatnya, Rosaline dan Adira, menghilang secara tragis setelah sebuah malam ritual yang tak pernah selesai. Kini, Alina kembali... dan bayang-bayang masa lalu ikut menyambutnya. Di balik cermin kamar tua, suara-suara berbisik. Di taman yang ditutupi es, setangkai mawar merah mekar setiap bulan Desember-meski tak seharusnya tumbuh. Dan di antara dua sahabat yang masih hidup, Cillan dan Rayhan, Alina perlahan menemukan cinta... sekaligus pengkhianatan. Saat penglihatan-penglihatan aneh mulai menghantui, Alina harus dari generasi ke generasi. Dan yang paling sulit-ia harus memilih: mengubur masa lalu, atau menebusnya, meski dengan mengorbankan masa depannya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines