We Met (again) in Amsterdam

We Met (again) in Amsterdam

  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 26, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Di tahun terakhir sekolahnya, Lana tidak lagi mencari cinta. Yang ia cari kini hanya tempat yang tenang, ruang untuk bernapas dari keramaian yang dulu pernah terasa hangat tapi kini menyisakan letih. Tapi ketenangan itu justru datang dalam bentuk June, penjaga perpustakaan yang lebih pandai diam daripada bicara. Tak ada pengakuan, tak ada kepastian. Hanya tatapan-tatapan kecil yang singgah terlalu lama, dan tawa lirih yang lahir dari hal-hal sederhana. Mereka bertumbuh, bukan ke arah yang pasti, tapi cukup untuk membuat hari-hari saling menanti. Namun tidak semua yang hangat bisa menjadi rumah. Hubungan itu perlahan mengabur, menyisakan pertanyaan yang tak pernah dijawab. Mereka pergi, bukan karena marah-hanya karena waktu tak mengizinkan untuk tinggal. Waktu berlalu. Hidup berlanjut. Namun kenangan punya cara sendiri untuk tetap tinggal-dan beberapa pertemuan, meski telah lama berlalu, rupanya belum benar-benar selesai. "Ada jeda di antara kita yang tak pernah kita isi, dan sekarang terlalu penuh oleh hal-hal yang tak pernah kita katakan."
All Rights Reserved
#83
comedy-romance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • Satu Atap, Satu Hati
  • The Memory Between Us I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • After The Storm
  • [END] When the Stars are Tired
  • Karena Kamu Rumahnya
  • Untuk Oreo dan Kamu [OG]
  • AMERTA : The Last Embrace

"Bunuh Saja Aku, Tuhan" Karya Kelvin A. Purnomo Bunuh Saja Aku, Tuhan bukan tentang kematian fisik. Ini adalah jeritan batin dari seseorang yang merasa hidupnya telah kehilangan makna, bukan karena ingin menyerah, tapi karena ia ingin mengakhiri bagian dari dirinya yang kalah, bagian yang takut, malu, atau merasa tak layak hidup. Ini adalah permintaan simbolik: "Bunuh bagian dari aku yang lemah, agar aku bisa membangun kembali versi diriku yang lebih jujur, lebih berani." Dalam cerita ini, Arka tidak sedang mencari jalan pintas. Ia justru sedang mencari cara untuk tetap hidup, meski dengan segala luka, kehilangan, dan kesalahan yang pernah ia buat. Dan saat ia hampir menyerah, yang ia minta dari Tuhan bukan akhir dari napas, tetapi kemampuan untuk memulai ulang. "Bunuh Saja Aku, Tuhan" bukan kisah tentang kematian, tapi tentang bertahan. Tentang keinginan untuk hidup meski tak selalu sanggup. Tentang seorang anak muda yang berusaha mengerti dunia, juga mengerti Tuhan yang kadang terasa terlalu diam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines