Tresno Kang Dirumat

Tresno Kang Dirumat

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 13, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Rama, pemuda sederhana sing uripé prasaja, mung kerja serabutan kanggo mbantu ibune nyambung urip. Nanging saka uripé sing sepi lan adoh saka gegayuhan, ana siji jeneng sing ndadekake saben dina ana warnane: Sekar. Sekar dudu bocah sembarangan. Dheweke putri pengusaha sugih ing ndeso. Sanadyan prabedane kaya langit lan lemah, Rama ngrasakake pangrasa sing jero
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Keluarga di Ujung Senja
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪
  • Pengantin Pengganti Yang Cacat (End)
  • Istri Pengganti Jadi Kesayangan (TAMAT)
  • GAFAH
  • Sajak dan Rima
  • Senja dan Jingga
  • Fake World
  • My Step Brother, My Lover.

Di sudut kota yang tenang, di mana waktu seakan berhenti, terdapat sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh kebun penuh bunga. Di situlah Amara, seorang gadis remaja, menghabiskan harinya. Setiap sore, saat matahari mulai merunduk di balik horizon, ia akan duduk di teras, menyaksikan keindahan langit yang berubah warna. Senja menjadi waktu istimewa baginya, di mana ia merasa terhubung dengan keluarganya. Keluarga Amara terdiri dari tiga jiwa yang saling melengkapi: Mama yang selalu bijak dengan nasihatnya dan Papa yang penuh semangat dan humor. Dalam kebersamaan mereka, Amara mulai merasakan ketegangan yang tak terlihat-perubahan yang perlahan mengubah dinamika keluarga mereka. Dalam perjalanan menjelajahi cinta dan kehilangan, Amara menyadari bahwa setiap senja menyimpan cerita yang menunggu untuk diungkapkan. Ketika langit kelabu berhiaskan kilauan bintang, Amara bertekad untuk menemukan makna sejati dari ikatan keluarganya. Di ujung senja, setiap detik berharga menjadi pengingat akan cinta yang takkan pernah pudar, meski badai menghadang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines