Tanpa Cinta?!

Tanpa Cinta?!

  • WpView
    Reads 483
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Feb 13, 2026
Kami dijodohkan. Bukan karena cinta, tapi karena harapan orang tua. Aku menerimanya... dia menolaknya. Tapi akhirnya, kami tinggal di bawah atap yang sama. Tak ada janji suci yang nyata. Tak ada kata manis. Hanya diam . Lalu di tengah sunyi itu, tatapanmu berubah. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar... akhirnya, kamu. Tapi... apakah kamu benar-benar datang, atau aku hanya lelah menunggu cinta yang tak pernah datang? akankah rumah ini menghangatkan? atau terpaksa dingin karena tak adanya cinta?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Deep End ✓
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • The Bleeding Lady [completed]
  • WINTER [Completed] ✓
  • STILL IM SURE WE LOVE AGAIN
  • About You #2
  • Dearest Mai (Insya Allah akan dinovelkan, beberapa bab Unpublished]
  • Dua cangkir satu Meja

TAMAT DI DREAME Dari awal, hubungan ini tak seharusnya terjalin. Lelaki tampan dengan sorot mata tajam dan dingin. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya dan bahkan satu atap bersamanya. Tak dipungkiri akan ketampanan dan pesona yang mampu membuat setiap wanita bertekuk lutut. Rambut cokelat keemasan, hidung mancung yang terpahat sempurna, mata dengan hazle cokelat madu yang teduh juga tajam dalam waktu yang bersamaan, rahang kokoh dan bibir merah ranum yang menjadi candu bagi setiap wanita. Pernikahan ini, pernikahan yang terjalin karena sebuah perjodohan perjanjian orang tua kami. Pernikahan yang sudah berjalan selama satu tahun dan tak pernah terjadi apa apa selain sikap canggung jika bertatap muka. Bukan apa apa, pasalnya kami berada disatu atap namun berbeda ruang kamar dan jangan harap berbagi ranjang yang sama. Tidak, tidak sama sekali. Sebenarnya jika aku boleh berkata jujur, aku mulai menerima kehadirannya dihari hariku. Walaupun sikap dingin dan tatapan tajamnya tak pernah hilang apalagi berubah, toh aku sudah terbiasa dengan itu semua bukan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines