Terbelah tapi Utuh

Terbelah tapi Utuh

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 22, 2025
Suara detak jam berdentang, menggema di antara kesunyian yang menusuk. Denyut jantung menjelma jarum-jarum kecil yang menusuk dadaku. Nafasku tersengal, raga tersentak saat menyadari seseorang tergeletak dingin di bawah kakiku. Ia memakai wajahku. Bentuk rahangnya sama, lengkung bibirnya pun serupa. Tapi ada sesuatu yang ganjil-sesuatu yang membuat darahku berdesir ketakutan. Aku memalingkan wajah ke cermin di sudut ruangan. Di sana, pantulan diriku berdiri. Dia menyeringai, tenang, dingin. Kemudian, tiba-tiba, air mata mengalir di pipinya. Aku tahu pasti-itu bukan aku. Lalu, pertanyaan-pertanyaan menyerang otakku seperti gelombang yang menghantam karang. "Siapa aku?"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Love Is You (Tamat)
  • Home (Completed) (Repost)
  • [COMPLETED] 7 Days
  • Sexy Daddy
  • Lucid dream
  • Kizu
  • love is complicated

Gadis pertama berdiri tegang melihat gadis kedua terduduk lemah di atas kursi roda. Wajah gadis kedua pucat. Ada kesakitan yang merayap di wajah gadis itu. Namun dia berusaha menyembunyikannya dengan memalingkan wajah. Gadis pertama masih shock sejak di IGD tadi dokter jaga menjelaskan bahwa kandungan gadis kedua tidak bisa dipertahankan lagi akibat perdarahan yang dialaminya. Gadis kedua hamil? Gadis kedua mengandung sebuah janin? Siapa... siapa yang melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala gadis pertama. Semua kebingungan dan kepanikan bercampur menjadi satu. Tidak tahu harus berkata apa. Tidak mengerti harus bertanya apa. Dia hanya diam membeku seperti orang bodoh. Tapi tatkala melihat raut wajah gadis kedua, gadis pertama tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Apalagi ketika melihat gadis kedua menekuk perutnya karena sakit saat diminta berbaring di sebuah ranjang ginekologi, gadis pertama merasa iba. Belum hilang kebingungan mereka, pertanyaan seorang perawat malah membuat keadaan semakin menegangkan. "Di mana suaminya?" tanya perawat itu dengan suara datar. Sepertinya perawat itu sudah bisa mengira apa yang terjadi ketika ada seorang pasien yang datang bersama teman-temannya. Bukan keluarganya. Gadis pertama memandang gadis ketiga yang sedang berdiri di sudut ruangan. Gadis ketiga pun terdiam membeku tidak menjawab sepatah kata pun. Tapi matanya meredup lalu menundukkan kepalanya. Siapa suami gadis kedua? Menikah pun dia belum! Lalu sebuah suara lelaki menyentakkan mereka. Spontan mereka menoleh dan terkaget-kaget melihat siapa lelaki itu. "Saya suaminya." Bersamaan gadis pertama dan gadis ketiga melihat gadis kedua dengan ketegangan yang memuncak. Seolah menanyakan kebenaran jawaban lelaki itu. Tapi sayangnya gadis kedua memilih untuk berpaling. Lalu setetes air mata membasahi pipi gadis kedua. Melihat air mata itu, gadis pertama tidak perlu lagi bertanya. Dia sudah mengerti semuanya. Lalu tiba-tiba hatinya terasa sakit. Amat sakit.

More details
WpActionLinkContent Guidelines