We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Terbelah tapi Utuh

Terbelah tapi Utuh

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 22, 2025
WpInfo
Fiction
Mystery
Suara detak jam berdentang, menggema di antara kesunyian yang menusuk. Denyut jantung menjelma jarum-jarum kecil yang menusuk dadaku. Nafasku tersengal, raga tersentak saat menyadari seseorang tergeletak dingin di bawah kakiku. Ia memakai wajahku. Bentuk rahangnya sama, lengkung bibirnya pun serupa. Tapi ada sesuatu yang ganjil-sesuatu yang membuat darahku berdesir ketakutan. Aku memalingkan wajah ke cermin di sudut ruangan. Di sana, pantulan diriku berdiri. Dia menyeringai, tenang, dingin. Kemudian, tiba-tiba, air mata mengalir di pipinya. Aku tahu pasti-itu bukan aku. Lalu, pertanyaan-pertanyaan menyerang otakku seperti gelombang yang menghantam karang. "Siapa aku?"
All Rights Reserved
#248
psikologi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Home (Completed) (Repost)
  • It's all About You
  • Di Balik Kacamata [END]
  • Lucid dream
  • Sexy Daddy
  • love is complicated
  • Terjerat obsesi Yandere

"Siapa barusan? Kok enggak disuruh masuk dulu?" ayah kini mengalihkan fokusnya padaku. "Teman Yah. Tadinya mau turun tapi aku bilang gak usah, gak enak udah malem," kataku lalu berjalan meninggalkan ayah. "Harusnya suruh masuk dulu, biar ayah tahu kamu berteman sama siapa?" katanya lagi. Aku memutar mataku jengah. Lalu berbalik menghadap ayah. Lalu berjalan mendekatinya. Menggelayutkan tanganku di tangan kekar laki-laki paruh baya yang selalu merasa khawatir padaku, seakan-akan aku ini masih gadis kecilnya. Satu hal yang ayah lupa aku kini sudah berusia 26 tahun dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Ayah, dia itu bukan siapa-siapa! Ayah gak usah khawatir kakak udah 24 dan bisa jaga diri," kataku sambil menggiring ayah masuk ke dalam rumah. Kudengar ayah menghela nafasnya, "Kamu itu permata ayah satu-satunya, harus benar-benar ayah jaga, karena ayah tidak akan memaafkan diri ayah sendiri jika sesuatu terjadi sama kamu," katanya. Aku mengelus lengan ayah, "Ayah gak usah khawatir! Kakak gak akan buat ayah kecewa," kataku lalu masuk ke dalam rumah. Ayah kemudian melepaskan lenganku yang menggamit menutup pintu depan dan memastikannya agar terkunci rapat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines