"Bukan karena tak bisa bicara, tapi karena tak ada yang mau mendengar."
Niela pernah punya rumah yang hangat. Ada ayah yang lembut, ibu yang penyayang, dan dua kakak laki-laki yang selalu menjaganya. Namun semuanya berubah sejak satu tragedi mengambil Ibunya. Setelah kepergian sang bunda, rumah itu tak lagi sama. Hangat berubah dingin. Peluk berubah diam. Cinta berubah luka.
Ayahnya, Kyle Edward, tenggelam dalam kesedihan yang membutakan. Ia memilih menutup hatinya dan mengurung Niela, seolah gadis kecil itu adalah bayangan dari masa lalu yang tak bisa ia terima. Ia mulai menyalahkan, mulai menjauh. Bukan karena benci, mungkin karena terlalu sakit. Tapi sakitnya itu berubah menjadi sikap yang menyayat hati anak kecil tak berdosa.
Dua kakaknya, Noah dan Joshua, pun ikut terdiam. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Noah memilih diam demi menjaga ketenangan rumah, dan Joshua mengikuti arus, menekan rasa peduli yang dulu pernah begitu besar. Mereka melihat, tapi tak bertindak. Mereka mendengar, tapi tak menyapa. Dan Niela, satu-satunya yang masih bertahan, justru menjadi orang yang dikurung, dilupakan, dan dianggap tak ada.
Tangisnya hanya disaksikan oleh bayangan ibunya yang masih sering hadir di mimpinya.
Namun dunia luar tak tahu. Shena akan membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Pintu menuju kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan oleh keluarga Niela.
Di tengah luka yang terus menganga, Niela tetap berharap. Bukan karena ia bodoh atau naif, tapi karena ia belum kehilangan seluruh cintanya. Ia masih ingin melihat ayahnya tersenyum. Masih ingin merasakan pelukan kakak-kakaknya. Masih ingin merasa punya rumah. Sekalipun kenyataan terus menolaknya, Niela tetap percaya-bahwa cinta itu mungkin bisa ditemukan kembali, walau dari serpihan yang berserakan.
DON'T COPY MY MASTERPIECE! murni dari otaknya zazapirawwiiee, ramein yhafS!
All Rights Reserved