Aku Juga Anakmu, Yah.

Aku Juga Anakmu, Yah.

  • WpView
    Reads 93
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 22, 2025
Aku terpaku terdiam diri di balik sakitnya hati ini. Suara gemuruh riuh perdebatan Ayah dan Bunda kembali menusuk telinga dan ragaku. Nada, adik kecil yang sedari tadi tertidur lelap seketika terbangun dan menangis sejadi-jadinya. Aku bimbang, antara memilih egoku yang tetap diam atau menenangkan adik perempuanku. Suara bentakan dan pukulan itu hampir setiap hari aku dengar dan saksikan. Aku tau, seberapa tersiksanya Bunda menjalani hidup dengan Ayah. Maka dari itu, aku selalu minta Ayah dan Bunda untuk pisah. Tapi, Bunda selalu sembunyi di balik kata "kasihan anak". Padahal, kita sebagai anak merasa lega kalau Nunda bebas dari makian dan siksaan Ayah. Pagi ini dengan kabut yang sejuk aku terbangun dengan perasaan hampa. Aku berjalan menyusuri ruang tengah menuju dapur untuk melihat sarapan yang dibuat Bunda. Tetapi, yang ku lihat hanya barang-barang yang berserakan sisa pertengkaran Ayah dan Bunda semalam. Aku berlari menuju kamar Bunda, dan aku tidak menemukannya di sana. Seluruh ruangan di rumah ku datangi, tetapi tidak ada yang ku temukan. Bunda kemana? Ini masih jam 6 pagi, masa iya sudah pergi ke kantor? Aku siap-siap menuju sekolah meninggalkan rumah yang seperti kapal pecah dengan tenaga yang tersisa setengah porsi. Aku menghubungi Bunda tapi tidak satupun telepon yang beliau angkat. Saat pertengahan jalan, ada telepon masuk, yang ternyata dari Bunda. "Kak, Ayah dan Bunda pisah." Deg. Hatiku hancur sekaligus lega mendengar pernyataan bunda pagi ini. Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun dan memilih untuk mematikan telepon dari Bunda. Persidangan Ayah dan Bunda akan terjadi di hari Sabtu ini. Apakah Aku akan kuat menjalani hidup setelahnya? Atau aku terus-terusan memendam rasa di balik diam?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Angel To Raya (END)
  • RUMAH KITA
  • Eliinaa
  • Narasi patah hati
  • ASAVELA KIARA
  • Sekali Lagi (End)
  • Devandra Mahendra
  • ELEGI ASMARA
  • SASHI
  • JANGAN PANGGIL AKU LARAS

Cerita ini menceritakan tentang wanita yang di nikahi bukan karena CINTA melainkan harapan. Ya, harapan akan sesosok malaikat kecil yang di impikan untuk melengkapi sebuah bahtera rumah tangga. Raya, nama yang menjadi kandidat Indra untuk calon ibu dari bayinya kelak. Bayi yang akan melengkapi kisah kasih pernikahannya dengan Maya wanita pemilik cintanya. Sementara itu Raya selalu menganggap Indra seperti Angelnya. Orang yang memberinya harapan baru dengan janji. Janji yang tak pernah ia tepati. Lalu apakah Raya akan menerima Indra? Apa selamanya ia hanya akan di jadikan yang kedua? Atau mencari Angel yang lain?? "Mengapa kau melamarku?" tanyaku menatap pada lelaki di depan. Lelaki yang sebulan lalu berhasil mengisi hatiku. Bahkan, sampai sekarang pun masih. "Aku telah mengatakannya, istriku yang memintamu. Ia ingin memiliki seorang anak dan ia tahu ia tak bisa memilikinya sendiri." "Maksudmu aku hanya kalian anggap sebagai sapi perah, begitu?" tanyaku sinis. "Tidak, tidak Raya. Tentu saja tidak." "Apa kau mencintaiku?" tanyaku mengalihkan topik. Sekilas aku melihat Indra menegang sebelum dengan cepat ia kembali menguasai diri. "Maaf, aku tidak mencintaimu, mungkin belum. Tetapi aku berjanji akan mencintaimu. Bagaimana apa kau mau menjadi istriku?" * * * Huhuhu. Penasaran Raya terima Indra atau gak? Cus, langsung di kepoin aja. Udah END loh!:()

More details
WpActionLinkContent Guidelines