Aku Juga Anakmu, Yah.

Aku Juga Anakmu, Yah.

  • WpView
    Dibaca 104
  • WpVote
    Vote 7
  • WpPart
    Bab 6
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Mei 22, 2025
WpInfo
Fiksi
Romansa
Aku terpaku terdiam diri di balik sakitnya hati ini. Suara gemuruh riuh perdebatan Ayah dan Bunda kembali menusuk telinga dan ragaku. Nada, adik kecil yang sedari tadi tertidur lelap seketika terbangun dan menangis sejadi-jadinya. Aku bimbang, antara memilih egoku yang tetap diam atau menenangkan adik perempuanku. Suara bentakan dan pukulan itu hampir setiap hari aku dengar dan saksikan. Aku tau, seberapa tersiksanya Bunda menjalani hidup dengan Ayah. Maka dari itu, aku selalu minta Ayah dan Bunda untuk pisah. Tapi, Bunda selalu sembunyi di balik kata "kasihan anak". Padahal, kita sebagai anak merasa lega kalau Nunda bebas dari makian dan siksaan Ayah. Pagi ini dengan kabut yang sejuk aku terbangun dengan perasaan hampa. Aku berjalan menyusuri ruang tengah menuju dapur untuk melihat sarapan yang dibuat Bunda. Tetapi, yang ku lihat hanya barang-barang yang berserakan sisa pertengkaran Ayah dan Bunda semalam. Aku berlari menuju kamar Bunda, dan aku tidak menemukannya di sana. Seluruh ruangan di rumah ku datangi, tetapi tidak ada yang ku temukan. Bunda kemana? Ini masih jam 6 pagi, masa iya sudah pergi ke kantor? Aku siap-siap menuju sekolah meninggalkan rumah yang seperti kapal pecah dengan tenaga yang tersisa setengah porsi. Aku menghubungi Bunda tapi tidak satupun telepon yang beliau angkat. Saat pertengahan jalan, ada telepon masuk, yang ternyata dari Bunda. "Kak, Ayah dan Bunda pisah." Deg. Hatiku hancur sekaligus lega mendengar pernyataan bunda pagi ini. Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun dan memilih untuk mematikan telepon dari Bunda. Persidangan Ayah dan Bunda akan terjadi di hari Sabtu ini. Apakah Aku akan kuat menjalani hidup setelahnya? Atau aku terus-terusan memendam rasa di balik diam?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • ASAVELA KIARA
  • Bukan wanita biasa (TAMAT)
  • TOO LATE TO FORGIVE YOU | ✔ | FIN
  • AIRA [On Going]
  • Angel To Raya (END)
  • Untuk, Arunika ✔ [PROSES TERBIT]
  • Eliinaa
  • SASHI

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan