Kana & Jerka (END)

Kana & Jerka (END)

  • WpView
    Leituras 343,711
  • WpVote
    Votos 14,073
  • WpPart
    Capítulos 46
WpMetadataReadConcluída sex, jun 20, 2025
WpInfo
Ficção
Romance
"Jodoh nggak akan kemana." Benar, nggak akan kemana karena jodoh Kana benar-benar dekat sekali. Tidak bisakah Kana menikah dengan Haechan? (⁠'⁠ ⁠.⁠ ⁠.̫⁠ ⁠.⁠ ⁠'⁠) Ikuti cerita pernikahan Kana dan Jerka yang seperti pernikahan umumnya. Tapi... dengan romansa tipis-tipis hehehe. Start: 06.05.25 Finish: 20.06.25 Revisi: (menyusul) @Etiyaa_aja
Todos os Direitos Reservados
#282
kana
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Don't call it love!
  • Setelah Menikah
  • Jiwa yang Tertukar (TAMAT)
  • Xless Marriage
  • NARENDRA, SPOILED HUSBAND (END)
  • Sebuah Usaha Mencintai [TAMAT]
  • ZiAron [END]
  • Suddenly Marriage
  • ALLARA [TERBIT]
  • Save The Date!

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo