Di Balik Pintu

Di Balik Pintu

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 12, 2025
Hari-hari terasa datar. Sekolah cuma jadi tempat singgah yang sepi makna. Aku duduk, diam, ngerjain tugas, lalu pulang. Semua orang ngira aku baik-baik aja. Tapi dalam diri aku, ada sesuatu yang retak. Kai selalu muncul di saat aku paling ngerasa kosong. Kayak sekarang. Aku duduk di pojok kelas, menatap jendela yang buram kena gerimis. "Kai, kenapa lo masih di sini?" suaraku nyaris pelan. "Gue nggak butuh siapa-siapa." Dia duduk di sampingku. "Lo pikir gue bakal pergi? Gue tahu lo capek. Tapi gue nggak akan ninggalin lo." Aku nggak langsung jawab. Udara di sekitar kami dingin, tapi dada aku yang lebih sesak. Kata-katanya, tatapannya—semuanya terlalu jujur buat aku hindari. --- Malamnya, aku susah tidur. Pintu itu—pintu kenangan—masih berdiri di kepalaku. Dan tiap aku coba nutupin, perasaanku makin memberontak. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu kamar. Kai muncul, ngasih kotak kecil hitam. "Ini kunci buat buka apa yang lo tutupin." Aku buka kotaknya. Kunci. Kecil. Tapi berat. "Lo nggak harus sendirian," katanya pelan. "Kalau lo buka pintu itu, gue ikut masuk." Aku diem. Takut. Tapi juga... lega. Dan malam itu, aku mulai mikir: mungkin udah waktunya berhenti lari. ---
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Xagala
  • MY LADDY BOSS  ||  HEERINA
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Complete (END)
  • Ecosillia
  • AIRen
  • Don't Talk About Money
  • Entwined by fate || BXB
  • Dalam Diam, Aku Menjagamu
Xagala

Sosok yang tampaknya lahir ke dunia hanya untuk menghancurkan apa pun yang ia sentuh. Xakia tidak pernah bisa melupakan bagaimana tatapan mata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan pada malam jembatan. Bagaimana ia hampir kehilangan segalanya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan satu pukulan keras satu hantaman yang membungkam monster itu. Gala, pria yang muncul entah dari mana, adalah sosok yang penuh misteri. Setelah malam itu, Xakia mulai melihatnya lebih sering. Selalu di tempat-tempat yang tidak seharusnya ia ada. Selalu dalam situasi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah ia adalah bayangan yang mengikuti Xakia, seseorang yang tahu lebih banyak dari yang seharusnya. Sekarang, di bawah hujan yang mengguyur tanpa henti, mereka kembali bertemu. Xakia menatap Gala dengan mata yang penuh pertanyaan. "Kenapa kau selalu muncul? Apa yang kau inginkan dariku?" Gala menghela napas, menyapu rambut basahnya ke belakang. "Aku tidak menginginkan apa pun." Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di baliknya sesuatu yang tidak Xakia mengerti. "Lalu kenapa kau memukulnya?" Xakia menatap tubuh yang tak bergerak di tanah, darahnya bercampur air hujan, mengalir menuju lubang drainase di pinggir jalan. Gala tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tubuh itu sejenak, lalu berbalik menghadap Xakia. "Karena jika aku tidak melakukannya, kau tidak akan pernah bisa lari." Ketegangan di antara mereka begitu pekat, seolah udara sendiri menahan napas. Lalu, sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Lampu merah dan biru berpendar di balik rintik hujan. Gala menatap Xakia dalam-dalam. "Kita harus pergi. Sekarang." Dan tanpa menunggu jawaban, ia menarik tangan Xakia, membawa gadis itu pergi dari malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines