[Joss x Gawin] Vade Retro Satana!

[Joss x Gawin] Vade Retro Satana!

  • WpView
    Reads 249
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 12, 2025
[COMPLETE] Lagi-lagi kenangan itu muncul di waktu yang tidak tepat dan Joss harus menguburnya dalam doa-doa. Tubuhnya kini telah penuh dengan roh kudus dan ia bisa merasakan energi spiritualnya meledak-ledak. Di tengah-tengah kamar Joss menutup mata lahirnya, merentangkan tangan seperti tengah disalib, dan memicingkan seluruh indra secara bersamaan untuk membangkitkan penglihatan batinnya. Rohnya menelusuri jejak ruang dan waktu yang berbeda, mencari-cari petunjuk dari seluruh memoar yang ditinggalkan oleh kota ini. Lalu Joss mulai melihat berkas-berkas kejadian serupa potongan film lama. Lonceng gereja, suara gagak, bisikan roh-roh halus, nisan-nisan tua, dan... 'Joss!' Suara itu. 'Joss! Tolong aku!' Suara itu?!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sin-yuka Imperio
  • Anaking
  • Saat Takdir Menghampiri Kita
  •  a girl's secret
  • Tentang Lionel : Cerita dari Catherina
  • Kaum Bendoro
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Misteri KKN Di Desa Penari
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Love You, Gus! (END)
  • The Silence That Shaped Me
  • WARISAN
  • 𝐄𝐥𝐝𝐢𝐫𝐚 || [Greshan]
  • Velmora Selphine
  • Ecosillia
  • • KECEWA ~
  • RAYANAN [on going]
  • bisikan

Kerajaan tempat kendali hanya sebuah ilusi. Di ruang istana yang dibangun dari bisikan dan hasrat tersembunyi, berdirilah sosok dengan tatapan tajam dan suara serendah desir bayangan. Perintah tak pernah datang lewat teriakan, melainkan lewat sentuhan yang tak terucapkan dan keheningan yang memaksa patuh. Di hadapan kekuasaan seperti itu, tubuh kan merunduk bukan karena kelemahan, melainkan karena sebuah pengakuan tak bersuara. Sebuah tunduk yang menyimpan rasa paling dalam rasa yang tak butuh nama, tak perlu alasan. Satu sentuhan di dagu, dan seluruh ruang seperti menahan napas. Detak tak lagi menurut, berdentum seperti berkhianat pada logika. Ucapan dibisikkan, dan hanya keheningan yang menyambut, namun gemetar tetap hadir tanpa diundang. Persetujuan tak pernah diucap, tapi selalu dijawab dengan kejujuran dari gerak paling sunyi disusul semburan kenikmatan dahsyat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines