Bayangan Yang Tak Pernah Pergi

Bayangan Yang Tak Pernah Pergi

  • WpView
    Reads 383
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 60
WpMetadataReadMatureComplete Sat, May 17, 2025
Dalam hidupnya yang sunyi, Rania hanya ingin mencintai dan dicintai. Namun, ketika orang yang ia percayai sepenuh hati justru menghancurkannya, luka itu tak pernah sembuh. Setiap sudut kota, setiap aroma hujan, bahkan diamnya malam-semuanya mengingatkannya pada cinta yang pergi tanpa penjelasan. Antara harapan yang pupus dan kenangan yang terus menghantui, Rania mencoba berdiri kembali, meski hatinya tak pernah benar-benar utuh. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang dalam, kecewa yang menggurat jiwa, dan bayang-bayang yang tak pernah mau pergi. "Aku tidak tahu mengapa pertemuan sesingkat itu bisa mengubah segalanya''.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • EPIPHANY
  • Dimana Letak Kebahagiaan Itu?
  • Narasi patah hati
  • Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
  • Yang Pernah Patah
  • [1] LUKA SEMESTA [END]
  • PAMIT (END)
  • BROKEN HEART [END]

"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara Tujuh tahun. Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis. Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja. Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda. Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah. Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat. Sampai... Adrian muncul. Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya, "Ayah." Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui: Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu? Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur, bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines