Terikat pernikahan

Terikat pernikahan

  • WpView
    LECTURES 165
  • WpVote
    Votes 57
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., mai 31, 2025
" tidak baik seorang wanita mengemis di depan seorang pria" ucap seorang pria bersorban hitam dengan wajah datarnya. Kahfi menarik lengan baju perempuan itu agar ia berdiri. " tutup aurat mu ukhti," Kahfi membuka sorban yang menutupi setengah wajahnya,lalu ia memasang kan sorban nya di kepala perempuan tadi. " saya yang akan tanggung jawab atas kehamilan mu," Spontan perempuan itu segera menggeleng dan menolak halus. " Tidak. saya tidak mau,yang seharusnya bertanggung jawab adalah orang yang sudah menghamili saya kak" " Dan saya tidak menerima penolakan mu. Saya tidak suka seorang perempuan mengemis di depan pria bejat" " mari tunjukan rumah mu"Titahnya terhadap perempuan yang masih muda darinya.
Tous Droits Réservés
#237
pensi
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Sailing With You [END]
  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Apa Itu rumah (SUDAH TERBIT)
  • Aku Yang Tak Dianggap
  • C R U S H (TERBIT)
  • Waiting For You
  • Writtin' My Way Out

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu