Arshaka Mahendra: 23 June
28 parts Ongoing Dia, si sulung, adalah lilin yang menyala redup di tengah badai. Tiga tahun silam, kehilangan sosok ayah mengguncang pondasi hidupnya, meninggalkan retakan yang tak pernah sepenuhnya pulih. Kini, ia berdiri tegak, sebatang pohon di tengah terjangan angin kencang. Setiap hari adalah perjuangan melawan kelelahan yang menggerogoti jiwanya, setiap langkah terasa berat, seperti menapaki jalan berbatu yang tak berujung.
Di balik senyumnya yang merekah, tersimpan kepedihan yang dalam, sebuah beban yang tak mampu lagi ia pikul sendirian. Ia adalah bintang jatuh yang perlahan memudar cahayanya, sebuah nyala api yang hampir padam. Ia telah berjuang sekuat tenaga, memberikan seluruh yang dimilikinya, namun takdir seperti arus sungai yang deras, menariknya ke tempat yang tak diketahui.
Perpisahannya bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan, sebuah akhir yang tak terelakkan.