We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Suara yang membawa pulang

Suara yang membawa pulang

  • WpView
    Reads 281
  • WpVote
    Votes 138
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 14, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
-"Pulang bukan selalu tentang tempat. Tapi tentang siapa yang tetap tinggal." Arsilia selalu diam. Bukan karena dia tak peduli, tapi karena ia terbiasa menjadi tengah-di antara suara yang keras dan yang selalu dibela. Sebagai anak tengah, ia tak pernah menjadi pusat. Tapi ia melihat semuanya. Dan ketika satu perjalanan keluarga yang seharusnya jadi liburan berubah menjadi ruang sunyi, Arsilia menyadari: kadang, untuk menyelamatkan yang paling kita sayangi... kita harus belajar bicara. Sebuah kisah hangat tentang keluarga, suara yang lama dipendam, dan keberanian kecil yang bisa menyatukan kembali hati yang retak.
All Rights Reserved
#166
anakkedua
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DESA PUNYA CERITA
  • Masih Ada Kamu di Setiap Luka [TAMAT]
  • Senandika : Titik Temu
  • A R S E A N A
  • Hujan Yang Tak Pernah Reda (HIATUS)
  • Jika esok Tak Pernah Ada

Azis Mahendra selalu hidup mewah di kota, terpaksa ikut keluarganya mudik ke desa. Ia kesal-baginya, desa terasa asing, tak nyaman, dan jauh dari standar hidupnya. Namun semua berubah ketika ia bertemu Ratih Prameswari, gadis desa 15 tahun yang hangat dan ramah. Mereka pertama kali bertemu di pasar. Azis merasa risih dengan bau amis dan suasananya yang ramai, sementara Ratih justru tertawa melihat kepanikan Azis. Percakapan singkat mereka dalam bahasa Jawa halus jadi pembuka hubungan mereka. Hari-hari berikutnya membawa mereka ke kebersamaan yang tidak direncanakan. Mereka naik sepeda menyusuri jalanan desa, melewati sawah, tertawa saat tercebur parit karena ceroboh. Azis mulai menikmati suasana desa yang dulu ia remehkan. Dua minggu yang awalnya membosankan berubah jadi hari-hari penuh warna. Namun waktu terus berjalan. Azis harus kembali ke kota. Di ujung desa, mereka saling menatap dalam diam. Tak ada kata perpisahan, apalagi janji. Hanya perasaan yang tumbuh tanpa pernah terucap. Ini bukan kisah cinta yang selesai bahagia. Tapi tentang perbedaan, tentang waktu yang terlalu singkat, dan tentang cinta yang hadir tanpa pernah benar-benar bisa dimiliki. Apakah perasaan itu akan bertahan? Ataukah akan jadi kenangan yang perlahan memudar bersama waktu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines