"Di balik toga dan tepuk tangan kelulusan, tersimpan cerita yang tak diajarkan di ruang kelas. Tentang diam yang dibeli. Tentang nilai yang dijual. Tentang kampus yang seharusnya mencetak pemimpin, tapi malah melahirkan penikmat sistem korup." - Catatan Tidak Diterbitkan, Mahasiswa UNR
Universitas Nusa Raga.
Sebuah nama yang bergema di brosur, spanduk beasiswa, dan akun media sosial yang penuh prestasi.
Kampus ini dikenal sebagai salah satu yang terbaik di negeri. Fasilitas megah, gedung-gedung modern, seminar internasional, dan ranking yang selalu dipoles tiap tahun. Tapi di balik semua kemewahan itu, ada lapisan realitas yang jarang disorot kamera: ruang kelas kosong tanpa dosen, birokrasi yang mempermainkan waktu mahasiswa, dan sistem akademik yang bisa dibeli dengan 'biaya konsumsi'.
Di sinilah kisah ini dimulai.
Bukan tentang mahasiswa sempurna. Tapi tentang mereka yang duduk diam terlalu lama, sampai akhirnya sadar: kalau semua orang memilih diam, siapa yang akan bicara?
Mereka bukan aktivis penuh jargon. Bukan pula jago debat di forum diskusi. Mereka hanya mahasiswa biasa-dengan luka, amarah, dan segenggam tekad untuk tidak lagi ditindas.
Elvario Mahendra.
Raesandha Arkana.
Naufal Damar.
Azka Revalina.
Empat mahasiswa dari latar berbeda, dipertemukan oleh satu hal: keberanian untuk bertanya "Mengapa kampus ini begitu rusak?" dan kesediaan untuk mencari jawabannya, meski harus berhadapan dengan mereka yang tak ingin kebenaran terungkap.
Ini bukan perang frontal.
Ini gerilya.
Dari balik layar laptop, dari tumpukan arsip berdebu, dari rekaman diam-diam, dan dari suara mahasiswa yang sudah terlalu lama dianggap tak penting.
Ini kisah mereka.
Ini kisah kita.
Selamat datang di 'Tikus Kampus'.
Sebuah cerita tentang kampus yang seharusnya menjadi benteng integritas-tapi telah lama disusupi oleh mereka yang menjadikannya ladang kekuasaan.
All Rights Reserved