Last Hope

Last Hope

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 14, 2025
Mereka bertemu bukan karena takdir yang manis, tapi karena semesta mempertemukan dua jiwa yang sama-sama hancur dalam diam. Ia, seseorang yang tak pernah meminta banyak, hanya ingin dimengerti. Dan dia, sosok yang terlihat kuat, tapi menyimpan begitu banyak luka di balik sorot matanya. Tak ada janji. Tak ada ikatan. Hanya kehadiran yang perlahan menjadi candu. "Entah sejak kapan, kehadiranmu menjadi tempat paling tenang untuk pulang. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku selalu ingin berada di dekatmu." -Alfan Al-Farizi- Namun tak semua yang terasa hangat bisa bertahan lama. Ia mundur, bukan karena tak ingin tinggal, tapi karena terlalu takut akan apa yang bisa terjadi jika ia bertahan. "Bukan karena aku tidak menghargaimu... aku hanya terlalu takut--takut jika pada akhirnya, aku yang akan menyakitimu." -Arasya Kaila Nadhifa- Dan akhirnya, yang tersisa hanyalah jarak, dan suara-suara yang tak pernah sempat diucapkan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Enemies in Flames
  • Lelaki yang Menyimpan Senja di Matanya
  • Bukan Cerita Kita
  • Di Balik Bayang Asa
  • Finding The Light ~ Moqeel  [COMPLETE]
  • Seperti Tulang [SUDAH TERBIT]
  • Titik Terbaik | END
  • Always Loving You
  • Nanti Juga Sampai

Enemies in Flames - dua musuh yang terjebak dalam permainan api perasaan. Dalam dunia yang penuh aturan, mereka adalah pengecualian. Arya Mohan Suryanandika adalah bad boy yang dikenal karena tatapan tajamnya, sikapnya yang dingin, dan keahliannya dalam membuat masalah. Baginya, hidup adalah tentang kesenangan dan kebebasan, tanpa peduli siapa yang ia sakiti dalam prosesnya. Aqeela Aza Calista, gadis yang juga jauh dari kata lembut dan manis. Ia berapi-api, keras kepala, dan lebih suka menyelesaikan masalahnya dengan pukulan daripada kata-kata. Tak ada satu pun orang yang berani macam-macam dengannya. Mereka berdua seperti dua magnet dengan kutub yang sama. Selalu bertolak belakang, selalu bentrok. Tapi siapa sangka, kebencian yang mereka pupuk begitu lama bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit? Sesuatu yang bahkan Aqeela sendiri berusaha keras untuk menolak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines