Story cover for Last Hope by zara_rhmn
Last Hope
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published May 14, 2025
Mereka bertemu bukan karena takdir yang manis, tapi karena semesta mempertemukan dua jiwa yang sama-sama hancur dalam diam. Ia, seseorang yang tak pernah meminta banyak, hanya ingin dimengerti. Dan dia, sosok yang terlihat kuat, tapi menyimpan begitu banyak luka di balik sorot matanya.

Tak ada janji. Tak ada ikatan. Hanya kehadiran yang perlahan menjadi candu.

"Entah sejak kapan, kehadiranmu menjadi tempat paling tenang untuk pulang. Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku selalu ingin berada di dekatmu."
-Alfan Al-Farizi-

Namun tak semua yang terasa hangat bisa bertahan lama. Ia mundur, bukan karena 
tak ingin tinggal, tapi karena terlalu takut akan apa yang bisa terjadi jika ia bertahan.

"Bukan karena aku tidak menghargaimu... aku hanya terlalu takut--takut jika pada akhirnya, aku yang akan menyakitimu."
-Arasya Kaila Nadhifa-

Dan akhirnya, yang tersisa hanyalah jarak, dan suara-suara yang tak pernah sempat diucapkan
All Rights Reserved
Sign up to add Last Hope to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Seperti Tulang [SUDAH TERBIT] by din4diinn
25 parts Ongoing
⚠️ Ditulis oleh: Aksaradin & NS. Sea ⚠️ Tersedia di shopee @ranisalenovel *** Haura Putri Maheswari, perempuan yang dikenal cantik, entah parasnya, maupun bentuk lukanya. Haura tumbuh pada atap sempurna, tapi cacat. Ia diperbolehkan untuk tinggal, meski suasana tampak berbeda dalam sana. Sebab, beberapa orang mungkin tidak akan pernah menganggapnya terlihat. Meskipun begitu, Haura tetap ingin bersama keluarganya. Tidak ada yang baik-baik saja, hari-hari terasa seperti berjalan pada kegelapan. Memasuki dunia yang di mana hanya ada luka dan air mata. Hidup tidak selamanya berisi kebahagiaan, memang. Luka, duka, pilu, dan rasa sedih akan selalu bertandang tanpa henti. Bahkan, tidak semua orang mampu bertahan hingga akhir. Ada yang memilih memutuskan jalannya sendiri, memilih mengutuk diri atas kelahiran, dan ada yang pulang sebelum waktunya. Namun kali ini, Haura berharap ia mampu bertahan di tengah gempuran pembenci. Tak ada yang dapat disalahkan, termasuk takdir. Semua yang terjadi sudah memiliki garisnya sendiri. Haura percaya, pada awalnya, bahwa hal-hal yang rusak pasti akan menemukan utuhnya suatu saat nanti. Hingga di mana kepercayaannya mulai pudar, seseorang datang, menuntunnya kembali pada jalan berbatu yang ia lalui sebelumnya. Ia jelas menolak, untuk apa kembali pada tempat yang sama jika harus mengulang patah yang serupa untuk kesekian kali? "Untuk membuat usaha lo menanam benih bunga di tahun-tahun sebelumnya nggak sia-sia. Gak mungkin 'kan kalau lo gak mau ngelihat hal indah yang selau lo nanti kedatangannya." - Samudra Sean Albiru **** "Ketika hidup dianugerahi patah berkali-kali, kau akan memilih mati, atau kembali sembuh dalam keadaan tak utuh?" - Seperti Tulang
You may also like
Slide 1 of 8
Resital Sunyi (End) cover
Bukan Cerita Kita cover
Enemies in Flames  cover
Adek Abang || END cover
Finding The Light ~ Moqeel  [COMPLETE] cover
LOVE INTO PANDORA BOX [ SUDAH TERBIT ] cover
Rebel's cover
Seperti Tulang [SUDAH TERBIT] cover

Resital Sunyi (End)

72 parts Complete

Ada cinta yang dikejar bukan karena jiwanya menyentuh, tapi karena citranya menjanjikan kesempurnaan. Ada yang dipilih bukan karena diinginkan, tapi karena hadirnya memudahkan. Sebagian hati hadir bukan untuk dimiliki, melainkan menjadi tempat singgah dalam badai yang tak kunjung reda, lalu dilupakan saat matahari kembali menyapa. Dan ada pula hati yang tak bersuara, menunggu dalam senyap, memanggul rindu tanpa jaminan akan menjadi tempat pulang. Hati yang tak pernah ditanya, tapi selalu ada; menjadi rumah bagi seseorang yang tak pernah ingin tinggal. Lucunya, cinta tak pernah paham logika. Ia tak memilih yang pantas, tak menetap pada yang layak. Ia berdiam di tempat yang paling retak, tumbuh di antara luka-luka yang belum sempat sembuh, menjadikan harapan sebagai candu untuk bertahan. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta yang tak terbalas. Ini tentang jiwa yang rela menjadi persinggahan dalam hidup orang lain, meski ia diciptakan untuk menjadi rumah. Tentang keberanian mencintai tanpa pamrih, tentang ketulusan yang tak meminta kembali. Karena mungkin, dalam dimensi cinta yang paling sunyi, hadir, meski tak dianggap, lebih bermakna daripada pergi tanpa sempat menyentuh. - "Lo tuh bukan yang gue mau, Bun. Lo cuma yang kebetulan ada pas gue hancur." -Lautvianar "Gue tau gue cuma pelampiasan. Tapi lo tau yang lebih nyakitin? Bahkan buat nyakitin, lo masih butuh gue." -Embunara