Story cover for Dharmawangsa  by RestiNuraisah8
Dharmawangsa
  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 47
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published May 14, 2025
Seperti halnya sebuah buku, kehidupan juga banyak aksara,warna dan juga gambaran nya hidup adalah sebuah pilihan bahkan sebelum kita di lahirkan maka dengan begitu saja saat kita beranjak dewasa semua pilihan akan tetap menjadi sebuah taruhan. Apakah itu akan menjadi akhir yang baik atau awal yang buruk semuanya akan sesuai dengan apa yang kamu pilih dan kamu perjuangkan.
Kegagalan bukanlah sebuah akhir pada sebuah buku, karena saat kita pertama kali menulis maka akan ada tulisan yang tidak beraturan, berantakan dan tidak memiliki arti, namun ketika kita selalu bertekad untuk meneruskan semua perjuangan itu tidak akan menjadi sia sia, tak apa sekarang kita terseok-seok namun nanti kita akan melengkungkan bibir saat berakhirnya tulisan itu dengan sebuah keindahan yang selama ini kita usahakan, seperti itulah hidup, aku selalu mengibaratkan nya dengan buku dimana ketika buku itu habis masih banyak buku lain yang harus aku isi dengan berbagai cara, pilihan dan perjuangan.
Maka dari itu gadis pecinta buku, musik, dan tulisan ini ingin sedikit bercerita tentang semua warna dan tulisan yang sudah di torehkan pada alur jalan hidupnya, seperti Dharmawangsa yang memiliki berbagai kebaikan dantidak ada kata cela aku memulai kisah ku
All Rights Reserved
Sign up to add Dharmawangsa to your library and receive updates
or
#299greenflag
Content Guidelines
You may also like
Jovanka dan Abang Kembar by LeenooYed
64 parts Ongoing
Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?
You may also like
Slide 1 of 9
Jovanka dan Abang Kembar cover
CERPEN (END) cover
Evanescent [END] cover
NEVERTHELOST || Love In Silence cover
My Mom Doesn't Need Daddy cover
The Fate Of My Life (END)  cover
True Love cover
My Life is My Secret - IMiaw cover
[ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun cover

Jovanka dan Abang Kembar

64 parts Ongoing

Hendra dan Narendra Dewantara terlahir dengan beban yang tak mereka mengerti. Sejak kecil, mereka harus mendengar bisikan-bisikan bahwa mereka adalah anak pembawa sial. Namun, di balik semua itu, mereka masih memiliki kasih sayang dari kedua orang tua mereka-setidaknya hingga bayi kecil itu lahir. Jovanka, adik bungsu mereka, hadir ke dunia dengan membawa perubahan besar. Kehadirannya mengubah segalanya. Orang tua mereka, Dewantara dan Cinthya, yang dulu begitu menyayangi mereka, perlahan menjauh. Semua perhatian, semua kasih sayang, semua harapan yang dulu diberikan untuk mereka, kini hanya tertuju pada satu sosok-Jovanka. Hendra dan Narendra tumbuh dengan kebencian yang tak mereka pahami. Bagi mereka, Jovanka adalah alasan mereka kehilangan orang tua. Bayi mungil itu adalah penyebab semua kehancuran. Maka, tanpa sadar, mereka ikut menjauh. Mereka membiarkan adik mereka tumbuh sendirian dalam dingin, tanpa pelukan hangat seorang kakak. Namun, waktu mengajarkan mereka banyak hal. Perlahan, kebenaran terungkap. Luka yang selama ini mereka kira milik mereka saja, ternyata juga terukir dalam diri Jovanka. Dan saat mereka menyadari itu, sudah terlambat. Adik mereka telah berjalan terlalu jauh dalam gelap, terjebak dalam luka yang tak pernah mereka lihat. Kini, di antara penyesalan dan keinginan untuk menebus segalanya, Hendra dan Narendra berjanji. Mereka tidak akan membiarkan Jovanka menghadapi semuanya sendirian lagi. Tidak peduli berapa banyak duri yang harus mereka lalui, tidak peduli seberapa terlambat mereka menyadarinya-mereka akan memastikan adik mereka tidak lagi merasa sendirian. Namun, apakah cinta dan penyesalan cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terukir begitu dalam? Ataukah semua ini sudah terlambat? Karena tak peduli seberapa besar keinginan mereka untuk melindungi, pada akhirnya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab: apakah seorang pangeran yang telah kehilangan mahkotanya masih bisa menemukan rumahnya?