Di sini, ada sepuluh jiwa yang terikat oleh takdir dan rasa kesepian yang tak terungkapkan. Mereka adalah anak-anak yang pernah kehilangan harapan, yang belajar bertahan di tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi mereka.
Tapi, di tempat ini, tidak ada yang benar-benar merasa di rumah. Mereka cuma belajar untuk sembuh atau setidaknya, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa mereka baik-baik saja. Semua luka itu, baik yang terlihat atau yang tersembunyi, mereka bawa ke dalam setiap hari yang berlalu. Hari-hari yang saling bertumpuk, seolah dunia memaksa mereka untuk terus bergerak maju tanpa memberi mereka kesempatan untuk berhenti dan merasakan.
Ada kalanya, mereka merasa kuat, percaya diri bisa melewati semua ini. Namun, ada kalanya mereka hanya ingin melepaskan semua, menyerah pada rasa sakit yang terus-menerus membayangi.
Luka itu tak akan pernah sembuh sepenuhnya. Tapi, mungkin mereka tidak perlu sembuh. Mungkin, mereka hanya perlu bertahan.
Di antara mereka yang bertahan, siapa yang benar-benar bisa melawan rasa sakitnya sendiri?
Atau, apakah yang terburuk belum datang?