ARMING

ARMING

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 28, 2026
ARMING Bumi bukan lagi milik manusia. Kini planet ini dikuasai oleh makhluk kristalisasi berwarna hitam, bermata kuning menyala, dengan jantung biru bercahaya. Mereka disebut ARTEFRAKE. Invasi mereka menghancurkan peradaban dalam hitungan jam. Negara-negara runtuh, daratan dan lautan direbut, dan umat manusia terusir dari tanah yang dulu mereka sebut rumah. Sisa-sisa manusia kini bertahan hidup di kota berbenteng raksasa yang berjalan di atas roda besi, dikenal sebagai Voltrum. Namun bagi banyak orang, Voltrum bukanlah rumah... melainkan penjara bergerak. Untuk melawan balik, manusia menciptakan satu-satunya senjata yang mampu menandingi ARTEFRAKE: sebuah robot tempur kolosal bernama ARMING. Di tengah keputusasaan ini, seorang pemuda tanpa ingatan bernama Yuuichiro terpilih sebagai pilot ARMING 00-unit pertama dan terkuat. Dari tangannya, harapan terakhir manusia digantungkan. Inilah kisah perjuangan merebut kembali bumi... Inilah kisah di mana keserakahan, pengkhianatan, dan ego manusia kembali diuji.
Creative Commons (CC) Attribution
#91
apocalypse
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [TAMAT] Help, I'm a Zombie!
  • The Last Antagonis
  • NEALINE : Blood and Ice Cream
  • SALAH OBAT
  • Side Character Syndrome
  • AVISENA
  • 𝗗𝗲𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗲'𝗔𝘁𝗵𝗼𝘀
  • GHOST FACE: NEXT, ARE YOU READY? (21+) ✔️
  • S Di Antara Dua N
  • Ervan Carolline

Pearl POV - Menjadi zombi bukan berarti aku kehilangan standar. Makan manusia sembarangan? Ew, jorok banget. Di tengah kiamat ini, aku tetap hidup dengan aturan, gaya, dan asosiasi zombiku sendiri. Hidupku sudah tenang, sampai pria menyebalkan dari militer itu menghalangi jalanku. Bhagna POV -​ Dia mutan anomali. Terlalu sadar dan kelewat terorganisir. Instingku menyuruhku untuk membunuhnya detik itu juga. Tapi senjataku tak pernah menyentuhnya. Dalihku, lebih aman menjaga musuh tetap berada dalam jangkauan. Padahal... mungkin saja aku hanya tidak ingin melepaskannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines