Bisikan DiMalam Hari

Bisikan DiMalam Hari

  • WpView
    Reads 200
  • WpVote
    Votes 73
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 18, 2026
Bisikan di Malam Hari Karya: MR RUSH Setiap malam, suara-suara itu memanggil... tapi bukan namamu. Di desa yang tenggelam dalam misteri, satu per satu penduduk lenyap tanpa jejak. Bisikan gelap semakin dekat, seakan memilih siapa yang akan menjadi korban berikutnya. Namun, di balik ketakutan itu, ada seseorang yang berani menantang malam-meski harus menghadapi rahasia keluarga, kutukan lama, dan kebenaran yang lebih menyeramkan dari kematian itu sendiri. Bisikan siapa yang akan terdengar terakhir kali? Apakah kamu cukup berani untuk membuka Bab pertama?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Silence That Shaped Me
  • Antara Dendam dan Cinta
  • Dalam Bayangan Ketakutan: Kumpulan Kisah
  • Misteri di asrama tua
  • Tentang Lionel : Cerita dari Catherina
  • Ecosillia
  • Si Manis
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • Can't Escape [END] ✔
  • AIR MATA IBLIS : untold story of Kanaya
  • Rumah Bercat Putih
  • Beyond the Grave, Beyond the Sky
  • Short Horror Stories
  • Proyek 17: Korban yang Terpilih
  • MEREKA TERUSIK
  • "Saat Gelap Tiba: Kumpulan Kisah Seram yang Membuat Gemetar"
  • Sin-yuka Imperio
  • kisah horor: teror jam 12 malam
  • CERITA HOROR SEKOLAH

"Aku tetap ada. Meski kalian pura-pura aku tidak pernah lahir." Goresan tinta hitam itu tampak tegas, meski tangan yang menuliskannya sempat gemetar. Tulisan itu menggantung di atas pantulan wajah Freya-seakan mengukir ulang dirinya. Bukan lagi sebagai anak yang tak dianggap, tapi sebagai sosok yang memilih berdiri. Di antara luka, pengkhianatan, dan keheningan yang membatu, ia tetap ada. Ia hidup. Bukan demi pengakuan. Bukan demi cinta yang tak kunjung datang. Tapi demi dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Freya tak menanti suara dari luar kamar. Tak lagi berharap ada ketukan, atau sapaan lembut di pagi hari. Ia tahu, pagi itu akan tetap sepi. Seperti biasanya. Namun kali ini, ia tidak takut. Karena saat dunia berhenti menyambutnya... Ia akhirnya menyambut dirinya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines