Farbe und Leinwand

Farbe und Leinwand

  • WpView
    Reads 78
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 8, 2025
Ayara melukis dunia dari kepingan luka yang tak pernah ia tunjukkan. Setiap sapuan kuasnya adalah bisikan sunyi yang tak sanggup ia ucapkan. Warna-warna di atas kanvasnya tampak hidup, namun dunianya sendiri kelabu-senyap, sunyi, dan sepi. Ia kehilangan terlalu banyak untuk percaya bahwa ada yang bisa benar-benar tinggal. Maka ia memilih untuk mencintai dari kejauhan: cat, kanvas, dan angka-angka akademik yang tak menuntut balas. Hingga Rael datang, seperti badai yang tak punya tempat untuk reda. Rael adalah warna-terlalu banyak warna. Ia berbicara dengan metafora, tertawa keras di antara dinding-dinding yang bisu, dan mencintai dunia meski dunia belum pernah benar-benar mencintainya kembali. Tapi tak ada 'rumah' bagi warnanya untuk pulang. Ia terlunta, terdampar dalam kesunyian yang ia tutupi dengan cahaya. Pertemuan mereka bukan kebetulan. Ayara butuh warna untuk kembali hidup. Rael butuh kanvas agar dirinya tak terus berhamburan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Saat Cinta Tak Terucap
  • Waktu?
  • Senja Yang Sunyi
  • Dekat? (Tara & Rara) [TAMAT]
  • Kesedihan [SELESAI]
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • LUKKA (MYG)
  • REKSA: The Last Bell
  • ARAKHA

Aira, seorang mahasiswi seni yang introvert, merasa nyaman dengan dunianya yang sunyi. Di balik ketenangannya, ada luka lama yang masih mengganggu hatinya-rasa takut untuk jatuh cinta lagi setelah perpisahan traumatis dengan ayahnya. Ia memilih untuk hidup tanpa melibatkan perasaan, menjalani hari-harinya dengan rutinitas yang aman dan terkontrol. Namun, semuanya berubah saat ia bertemu dengan Raka, seorang mahasiswa film yang baru pindah ke kampusnya. Raka yang ceria dan penuh perhatian membuat Aira merasa tak nyaman, tetapi perlahan ia mulai melihat sisi lain dari diri Raka yang membuatnya merasa dihargai dan dipahami. Meskipun demikian, Aira masih diliputi ketakutan akan hubungan yang lebih dalam. Seiring berjalannya waktu, perasaan antara mereka semakin berkembang, tapi Aira berusaha keras untuk menghindarinya. Dia takut jika dirinya membuka hati, luka lama itu akan terbuka kembali. Raka, yang jatuh cinta pada Aira, tidak ingin menyerah begitu saja. Dia tahu ada lebih banyak di dalam diri Aira, dan dia bersedia menunggu. Akankah Aira mampu menghadapi ketakutannya dan menerima cinta yang datang dengan perlahan? Ataukah ia akan terus membiarkan cinta yang indah itu hanya menjadi sesuatu yang tak terucap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines