To Open Up

To Open Up

  • WpView
    Reads 319
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 7, 2025
Alesha Anindya bukan gadis yang mudah bercerita. Dunia dalam kepalanya terlalu sunyi untuk sembarang orang masuk. Selama ini, cinta tak pernah menjadi prioritas-baginya, belajar dan tumbuh jauh lebih penting. Namun kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, ia ingin mencoba sesuatu yang baru: mencintai. Ia yakin, dirinya mampu menjadi sosok yang tulus, penuh kasih, dan layak dicintai. Tapi, apakah keyakinan itu cukup? Apakah ia datang terlalu cepat... atau justru terlalu terlambat? Dan saat semua ketulusan telah diberikan, akankah cinta itu berakhir dirayakan, atau justru menjadi luka baru yang tak ia duga?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To Heal
  • Layà & Diga
  • Tasbih Pembawa Jodoh
  • Bahagia Ada Bersamanya (END)
  • DEAR LOVE
To Heal

Luka yang tak terlihat seringkali lebih menyakitkan daripada yang tampak. Alira hidup dengan dendam dan kebencian yang tak pernah padam, terutama kepada ayahnya-orang yang telah merenggut ibunya. Diasuh oleh keluarga yang memperlakukannya berbeda, ia tumbuh menjadi gadis yang dingin, keras, dan tak ingin bergantung pada siapa pun. Namun, segalanya berubah ketika Aidan kembali ke hidupnya. Sahabat kecilnya yang dulu ia anggap telah menghilang kini berdiri di hadapannya, membawa cahaya yang nyaris padam dalam dirinya. Aidan tak hanya ingin kembali berteman-ia ingin mengubah Alira, membuatnya percaya bahwa luka bisa sembuh dan masa lalu tak harus selalu menjadi beban. Tapi, bisakah seseorang benar-benar pulih dari luka yang sudah terlalu dalam? Ataukah Alira akan tetap terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya? Di tengah konflik keluarga, geng sekolah yang menambah kekacauan, serta perasaan yang mulai berubah, Alira harus menemukan jawabannya sendiri. Karena terkadang, perjalanan untuk pulih justru lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines