
Dalam palungan takdir yang ditulis para dewa, Lareina dan Kokabiel bersua laksana cakra dan chandra-berbeda namun saling melengkapi. Ia, sang perempuan berparas bak devī dari langit ke sembilan, dan ia, sang pria bermata tenang bak samudra purba, menyatu dalam irama cinta yang tak berkesudahan. Seperti mantram yang diucap dalam sunyi, cinta mereka mengalir dari rahsa terdalam, menyatu dalam dharma yang agung: menjadi satu, tak terpisahkan oleh musim, waktu, ataupun reinkarnasi. Cinta mereka tak hanya menyapa raga, namun juga menyusup hingga ke akar jiwa. Setiap sentuh dan lirih kata menjadi yajña suci bagi semesta, membakar ego dan menggantinya dengan pengabdian. Lareina menjadi udara di dada Kokabiel, sementara Kokabiel menjadi tanah tempat Lareina berpijak. Bersama, mereka bukan sekadar sepasang muda mudi yang memadu kasih, namun satu ruh dalam dua tubuh-menari di antara bintang-bintang, berjanji di bawah saksi langit, bahwa cinta mereka abadi, dalam diam maupun dalam kidung.All Rights Reserved
1 part