LANGIT BERBICARA IN 2011

LANGIT BERBICARA IN 2011

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 18, 2025
Levashey Bracilla tidak pernah menemukan cinta yang ia dambakan. Dunia terasa sunyi, begitu asing dan menusuk, hingga suatu hari ia menyerah. Ia berjalan ke hutan, berbaring di rerumputan, menatap langit, dan membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Namun ketika ia hendak memejamkan mata untuk mengakhiri segalanya, langit berbicara padanya. Seketika setelah pulang, ia mendapati ibunya telah terbaring kaku di dalam peti mati. Sejak hari itu, Levashey bukan lagi remaja biasa. Ia bekerja sepulang sekolah, mengurus adik kecilnya, menahan lapar, menahan tangis. Namun dunia tidak pernah memberi ampun. Pada suatu malam ketika mereka belum makan apa pun, esoknya adiknya ditemukan tak bernyawa di kamar. Langit kembali berbicara. Tapi kali ini... Levashey tak yakin apakah ia masih ingin mendengar.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Track 01: Sebuah Lagu dari Masa Lalu [PREVIEW]
  • BLOOMING [END]
  • Tulisan Sastra✔
  • HANCUR💔<END|
  • ice bear kesayangan
  • Remember You - {On Going}
  • Effort 2 [ Completed ]
  • Feeling Blue

Di gudang rumah lamanya yang penuh dengan kotak-kotak berdebu, Damia tanpa sengaja menemukan sebuah mixtape tua berlabel, "Kisah Klasik Tentang Kita" dan selembar foto yang memperlihatkan masa muda ibunya. Seminggu yang lalu, ibunya meninggal dunia. Meninggalkan Damia dengan kerinduan untuk memahami masa lalu ibunya. Mixtape usang tersebut menjadi penghubung ke sejarah ibunya, sementara foto tersebut mengisyaratkan sebuah kelompok yang dulunya bersatu erat, namun berakhir terpecah belah akibat kompleksitas kehidupan. Namun, di tengah perjalanan menggali masa lalu ibunya, Damia justru menemukan fakta yang membuat dunianya dilanda badai hebat. "Ayah bisa ngomong kayak gitu karena Ayah nggak pernah tahu gimana rasanya jadi seseorang yang nggak pernah diinginkan keberadaannya. Seseorang yang hampir dibuang bahkan sebelum dia diberi kesempatan untuk hidup. Itu rasanya sakiiit banget. Jauh lebih sakit dibanding aku harus terima kenyataan kalau aku udah nggak bisa peluk mama lagi," ucapnya, ketika badai itu menerjang malamnya yang penuh dengan kesunyian. | Tenderlova, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines