Pieces of Her

Pieces of Her

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 2, 2025
Suara monitor di ruang rumah sakit adalah satu-satunya yang terdengar saat mata Leoretta perlahan membuka. Cahaya putih menyilaukan menusuk retinanya, membuatnya refleks memejamkan kembali. Dadanya sesak. Tangannya bergetar saat mencoba menyentuh wajahnya-terasa asing, seperti bukan miliknya. "Mommy?" Suara kecil itu membuat napasnya tercekat. Perlahan, Leoretta menoleh. Seorang gadis kecil dengan rambut ikal kecokelatan berdiri di sisi tempat tidurnya, mengenakan gaun pink dan memeluk boneka beruang. "Aku... siapa kamu?" Suaranya serak. Gadis itu menatapnya bingung, lalu memeluk pinggangnya dengan erat. "Aku Valerie... anak Mommy." Dunia Leoretta runtuh. Anak? Dia tidak menikah. Tidak pernah mengandung. Tidak pernah
All Rights Reserved
#95
up
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bukan ZONK!
  • Capricorn
  • Love Is You (Tamat)
  • milik sang penguasa kampus
  • [COMPLETED] 7 Days
  • Saturnus,Uranus,Neptunus [BXB] [BL]
  • Reverie
  • Help Me to Hate You..
  • AGNE

"Jadi gue harap lo bisa akting" Abel mendongak menatap bingung Aidan "Akting? Untuk apa?" Aidan berdecak. "Hamil!" bentak Aidan ketus. Abel terkesiap Akting hamil? Padahalkan dirinya memang benar-benar hamil! Kegilaan macam apa lagi ini! "Gue harap lo bertindak layaknya wanita hamil" Abel mendengus. Memangnya wanita hamil bertindak seperti apa? "Pokoknya sebelum bayi itu lahir, lo harus bertindak layaknya orang hamil. Jangan lupa setiap bulannya lo harus membesarkan ukuran perut, dan buat se 'real' mungkin biar orang-orang percaya" Abel tersenyum miris mendengar setiap ucapan yang Aidan lontarkan. Bagaimana mungkin dirinya harus berakting layaknya orang hamil, sementara dirinya sendiri hamil tanpa diminta? Aidan langsung berbalik pergi, Abel mendengus. Kemudian menundukkan kepala menatap perut datarnya "Sabar ya sayang, jangan merasa 'aneh' mendengarkan percakapan mama tadi. Seengaknya mama nggak harus nutupi perut mama untuk bulan-bulan selanjutnya kan?" jelas Abel, pada calon bayinya. Setidaknya dengan adanya 'titah' Aidan ini. Mau sebesar apapun perut Abel nanti, ia tak perlu risau, karena pasti Aidan akan menganggap 'perut buncit' Abel itu bohongan. (CERITA SUDAH TERSEDIA LENGKAP DI KARYAKARSA!) Start: 27/6/1

More details
WpActionLinkContent Guidelines